Situbondo, realitapublik.id – Mobil Siaga setiap Desa di Kabupaten Situbondo yang didapati pada sejumlah bagian bodinya melekat warna Oranye, menimbulkan pendapat yang kontraversi di sejumlah kalangan. Diantaranya pendapat dua tokoh masyarakat Situbondo, yakni H. Ricky Ricardo H Allen, SH., MA., dan Sutomo, Selasa (22/04/2025).
Dua orang dari Besuki ini menyampaikan pendapat yang berbeda tentang warna Oranye yang melekat di mobil Siaga.
Ricky Ricardo A, SH., MA.
Ricky mengaku tidak mengerti dengan pola pikir dan tidak mengetahui apa yang ada dalam benak bupati Situbondo yang telah memerintahkan seluruh kepala desa untuk mengecat atau memberi warna Oranye pada mobil Siaga.
“Saya tidak mengerti, ada pola pikir apa yang ada dalam benak seorang bupati yang bernama Rio. Warna Oranye itu kan identik ketika Rio melakukan kampanye dulu. Ini kan pertandingan sudah usai, perwayangan sudah usai. Janganlah mendikotomikan mobil siaga desa menggunakan warna Oranye yang identik dengan warna kemenangannya. Apakah Rio takut kehilangan massa dan apakah Rio takut kehilangan pendukungnya yang diduga telah memerintahkan seluruh kepala desa untuk mengecat warna Oranye pada mobil Siaga?,” kata Ricky.
Menurut Ricky, bupati seharusnya berfokus pada kemajuan masyarakat desa, baik dari sisi ekonomi dan pendapatannya. “Katanya Situbondo mau naik kelas, konsepnya apa? Mungkin dengan mengoranyekan mobil Siaga menjadi salah satu konsepnya Situbondo naik kelas?,” kata Ricky yang bicara dengan nada suara bertanya.
Ricky menilai pemikiran yang kerdil jika itu yang menjadi salah satu konsepnya.
“Saya rasa ini adalah pemikiran yang sangat kerdil, menurut saya loh,” ujar pengacara yang cukup dikenal banyak masyarakat di Situbondo ini.
Saat ditanya mengenai mobil Siaga apakah perlu dicat warna Oranye atau tidak, Ricky menjawab bahwa seharusnya bupati membiarkan para kepala desa berimajinasi tentang kemajuan desanya. Contoh pada mobil Siaga diberi tulisan “Situbondo Berakhlak atau Besuki Berakhlak”. “Jangan di just warna oranye, kan lucu,” ujar Ricky.
Dalam kesempatan ini, Ricky mempertanyakan sumber anggaran untuk pengecatan warna Oranye pada mobil Siaga tersebut.
“Pertanyaan saya, walaupun itu (mobil siaga) dipasang skotlet atau segala macam, anggarannya siapa yang tanggung? Apakah dibenarkan menggunakan anggaran DD atau ADD? Apakah bupati memberikan anggaran itu? Nanti dilapor penyimpangan, salah lagi,” ujarnya.
Seharusnya, lanjut Ricky, para kepala desa itu diberikan kebebasan untuk berkreasi terhadap mobil siaganya masing-masing. “Jadi setiap desa, ada ciri khas mobilnya, gitu loh,” ucapnya.
Sutomo
Menurut Sutomo, introspeksi dalam rangka berfikir bangsa ini kedepan harus ada derap langkah yang sama di antara semua komponen bangsa, terutama di kepala desa.
“Derap langkah yang sama ini diperlukan dan diwujudkan dalam karakteristik, salah satu karakter adalah mobil siaga itu harus mempunyai karakter,” kata Sutomo.
Lebih lanjut, Sutomo mengatakan, ada kasus belum lama ini, ketika semua mobil Siaga itu dikumpulkan, ternyata ada macam-macam gambarnya dan ada juga mobil yang tidak ada gambarnya.
Selain itu terjadi penyalahgunaan, ada mobil siaga yang digadaikan. “Pengecatan atau pemberian warna oranye pada mobil Siaga), agar penggadaian mobil Siaga tidak terulang,” ujarnya.
Kata Sutomo, warna Oranye itu simbul Situbondo, kemenangan Situbondo, sehingga kalau mobil Siaga itu berada di luar Situbondo, akan ketahuan bahwa mobil itu adalah mobil Situbondo. “Jadi saya melihat, pemberian warna Oranye pada mobil Siaga adalah hal yang positif,” ujarnya.
Kemudian terkait anggaran untuk pengecatan warna Oranye pada mobil Siaga, ada anggaran yang melekat di setiap kepala desa sebanyak 3 persen dari DD (dana desa).
“Anggaran yang melekat di setiap kepala desa sebanyak 3 persen dari DD tersebut bisa dibuat operasional, dan oleh kepala desa bisa diambilkan dari dana itu. Untuk besarannya saya kira bisa bervariasi karena variasi antara mobil siaga satu dengan yang lainnya beda. Jadi urusan dana gak ada masalah dan tidak usah dipermasalahkan,” ungkapnya.
Kedepannya, Mas Rio harus mengutamakan kepentingan desa, dan sesuai janji politiknya, yakni satu unit mobil ambulans setiap desa. “Ini (mobil ambulans) harus segera diwujudkan, terlebih lagi mobil Siaga itu belum cukup dipakai oleh desa untuk memberikan pelàyanan dan membantu masyarakat desanya. Mobil ambulans setiap desa sesuai janji politiknya Mas Rio harus segera diwujudkan karena lebih ditunggu oleh masyarakat,” pungkasnya.(*)
Penulis : Abdul Hakim






