BESUKI, realitapublik.id – Kawasan Alun-Alun Besuki tidak hanya menjadi pusat keramaian warga, tetapi juga menjadi saksi bisu perjuangan para pencari nafkah informal. Di salah satu sudutnya, Darmaji (60), atau yang akrab disapa Pak Farid, tampak telaten menusukkan jarum sol ke sepasang sepatu usang. Warga Dusun Bloro Tengah, Desa Bloro ini adalah satu dari sekian banyak perajin alas kaki yang menggantungkan hidup di jantung Kecamatan Besuki tersebut, Rabu, 9 September 2026.
Pria kelahiran tahun 1966 lulusan SMEA tahun 1987 ini bukan orang baru di kawasan tersebut. Sejak tahun 1997, Pak Farid sudah mematangkan jemarinya untuk memperbaiki ribuan alas kaki warga. Sebagai tulang punggung tunggal sejak sang istri, Asti, meninggal dunia pada 2016, Pak Farid menerapkan disiplin tinggi pada dirinya sendiri. Ia hampir tidak pernah meliburkan diri, kecuali jika kondisi fisiknya benar-benar tumbang karena sakit.
Di sekitar Alun-Alun Besuki, Pak Farid tidak sendirian. Berdasarkan pengamatannya, terdapat belasan orang yang terdaftar atau biasa mencari rezeki sebagai tukang sol di kawasan tersebut. Namun, dalam hari-hari biasa, hanya ada sekitar 6 hingga 10 orang yang aktif menggelar lapaknya. Persaingan antar-sesama pencari nafkah ini menuntut kesabaran ekstra, mengingat rata-rata pendapatan yang bisa dibawa pulang Pak Farid berkisar di angka Rp50.000 per hari.
“Kalau hari biasa ya bergantian rezekinya dengan teman-teman yang lain. Yang penting cukup buat makan dan biaya sekolah anak,” ungkap Pak Farid dengan nada bersahaja.
Dinamika di sudut alun-alun ini akan berubah drastis saat menjelang Lebaran atau Hari Raya Idulfitri. Pada momen tersebut, jumlah tukang sol yang mangkal bisa melonjak hingga sekitar 15 orang. Banyaknya warga yang ingin memoles atau memperbaiki sepatu lama agar tampak baru untuk berlebaran, menjadi magnet bagi para tukang sol musiman maupun mereka yang sebelumnya jarang keluar untuk ikut meraup berkah musiman.
Lewat pendapatan yang tidak menentu itu, tekad baja Pak Farid terbukti nyata. Ia berhasil mengantarkan anak pertama dan keduanya lulus SMA, di mana anak pertamanya kini bahkan telah berkeluarga dan memberinya seorang cucu. Sementara itu, anak ketiganya saat ini masih duduk di bangku SMA. Bagi Pak Farid, setiap ketukan palu di atas sol sepatu di sudut Alun-Alun Besuki adalah jembatan yang ia bangun demi masa depan yang lebih cerah bagi anak-anaknya.(*)
Penulis : Abdul Hakim






