KABUPATEN BATANG, realitapublik.id — Ratusan karyawan PT Yamani Asia Pacific yang beroperasi di kawasan Batang Industrial Park (BIP), Kabupaten Batang, menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada Jumat (9/1/2026). Aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan pekerja terkait pemenuhan hak-hak normatif yang dianggap tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan.
Massa yang memadati area gerbang perusahaan menyuarakan tuntutan mereka agar pihak manajemen segera membenahi sistem pengupahan dan pemberian tunjangan yang selama ini dianggap bermasalah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, setidaknya ada dua isu utama yang menjadi pemicu aksi protes tersebut:
Tunjangan Kompensasi: Karyawan mengeluhkan adanya tunjangan kompensasi yang hingga kini tidak dibayarkan oleh pihak perusahaan.
Upah Lembur: Massa menuntut kejelasan perhitungan upah lembur yang dinilai tidak transparan dan melenceng dari Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan serta undang-undang yang berlaku.
Aksi demonstrasi ini menjadi bentuk protes terbuka atas dugaan ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja. Koordinasi lapangan menegaskan bahwa mereka hanya meminta agar hak-hak karyawan dihormati dan diberikan sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan di Indonesia.
“Kami hanya menuntut apa yang menjadi hak kami. Perhitungan upah harus transparan dan sesuai aturan. Kami berharap aksi ini mendapat perhatian serius, baik dari manajemen perusahaan maupun Pemerintah Kabupaten Batang,” ujar salah satu perwakilan massa.
Para karyawan berharap pihak perusahaan segera membuka ruang dialog yang adil dan transparan untuk menyelesaikan sengketa ini. Selain itu, mereka mendesak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Batang untuk turun tangan melakukan mediasi agar permasalahan tidak berlarut-larut dan merugikan produktivitas kerja.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Yamani Asia Pacific belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para pekerjanya. Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan untuk memastikan situasi di kawasan BIP tetap kondusif.
Penulis : Fery Eka







