Misteri Asap Beracun Tambang Pongkor: Bantahan Resmi Pemerintah vs Dugaan Skandal “Jual Beli Jam” Gurandil

- Jurnalis

Senin, 19 Januari 2026 - 19:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

BOGOR, RealitaPublik.id — Insiden munculnya asap beracun di areal tambang emas Gunung Pongkor milik PT Aneka Tambang (Antam) di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Selasa (13/1/2026), memicu polemik besar. Di tengah bantahan resmi mengenai jatuhnya korban jiwa, muncul dugaan kuat adanya praktik “jual beli jam” yang melibatkan oknum dan penambang ilegal (gurandil).

 

Kesenjangan informasi antara pernyataan otoritas dengan investigasi lapangan memicu pertanyaan publik: Benarkah tidak ada korban jiwa, atau ada fakta yang sengaja ditutup rapat?

 

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, membantah keras isu yang viral di media sosial mengenai adanya 700 penambang yang tewas atau terjebak. Menurutnya, angka 700 tersebut merujuk pada istilah teknis kedalaman lubang, bukan jumlah orang.

Baca Juga :  Geger Penemuan Mayat di Rawa Tiyuh Karta, Polisi: Murni Meninggal Sakit

 

“Level 700 adalah istilah lubang tambang. Pihak Antam telah memverifikasi bahwa saat asap muncul pukul 00.30 WIB, tidak ada aktivitas operasional penambangan resmi dan tidak ada korban dari pihak pekerja Antam,” ujar Rudy, Rabu (14/1/2026).

 

Senada, Humas PT Antam, Farid, menjelaskan bahwa asap diduga berasal dari terbakarnya kayu penyangga di tambang bawah tanah L.600 Ciurug yang memicu peningkatan gas Karbon Monoksida (CO). Ia menegaskan tidak terjadi ledakan maupun kebocoran gas berbahaya yang memakan korban.

 

Berseberangan dengan pernyataan resmi, Ketua Umum Forum Masyarakat Pemantau Negara (Formapera), Teuku Yudhistira, menilai ada kejanggalan dalam penanganan kasus ini. Ia menduga adanya praktik “jual beli jam” ilegal di kawasan Antam.

Baca Juga :  HKG PKK ke-54: Ketua TP PKK Tubaba ajak Perempuan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Sukseskan Layanan KB

 

“Investigasi kami menemukan dugaan kuat gurandil masuk ke areal tambang saat jam operasional Antam berhenti, biasanya tengah malam. Ada oknum yang diduga menjual ‘slot waktu’ tersebut kepada para penambang liar,” tegas Yudhis, Senin (19/1/2026).

 

Yudhis juga mengidentifikasi oknum berinisial HE, pemilik tambang ilegal di Kampung Malasari yang lubangnya diduga menembus hingga kawasan konsesi PT Antam.

 

Kejanggalan Bantahan Cepat Pemerintah

Yudhistira mempertanyakan sikap Bupati Bogor yang dinilai terlalu dini mengeluarkan pernyataan “nihil korban” di hari yang sama dengan kejadian tanpa menunggu penyelidikan kepolisian secara mendalam.

Baca Juga :  Warga Semarang Tengah Bersiap! Simak Jadwal Pemadaman Listrik Hari Ini

 

“Ada apa? Pernyataan tersebut terkesan terburu-buru dan hanya bertujuan meminimalisir perhatian publik. Kami mendesak transparansi total. Jangan sampai ada korban jiwa yang masih tertinggal di dalam lubang tanpa evakuasi karena status mereka dianggap ilegal,” tambahnya.

 

Atas nama IWO dan Formapera, pihaknya menuntut PT Antam untuk:

Audit Internal: Mengusut oknum yang bermain dalam praktik “jual beli jam” tambang.

Transparansi Evakuasi: Membuka data riil kondisi di bawah tanah Level 600 dan 700 pasca-insiden asap.

Penyelidikan Independen: Melibatkan pihak kepolisian untuk memastikan keberadaan warga sipil (gurandil) di lokasi saat kejadian.

Penulis : Rody Sandra

Editor : Chu

Berita Terkait

Kado Terindah Hari Kartini, DPR Resmi Sahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Laboratorium Arsitektur Dunia: Mahasiswa TU Delft Belanda Bedah Konsep “Tubaba Masa Depan”
Sinergi Lintas Sektor Diperkuat, SPPI Tumijajar Gandeng Forkopimcam dalam Rapat Strategis.
Lagi Dan Lagi Ungkap kasus Narkoba, Dua Pelaku dengan Puluhan Paket Sabu di Amankan Sat Narkoba Polres Lampung Utara
Hari Kartini 2026: Mahasiswi Unair Asal Situbondo Ajak Gen Z Teladani Semangat Belajar Tanpa Batas R.A. Kartini
Geger Penemuan Mayat di Rawa Tiyuh Karta, Polisi: Murni Meninggal Sakit
Buntut Audiensi Nihil Hasil, PKL Sorogenen Seret Dugaan Pungli ke Jalur Hukum
Geger! Sesosok Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Belakang Pabrik BTJ 
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 01:36 WIB

Kado Terindah Hari Kartini, DPR Resmi Sahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Selasa, 21 April 2026 - 22:01 WIB

Laboratorium Arsitektur Dunia: Mahasiswa TU Delft Belanda Bedah Konsep “Tubaba Masa Depan”

Selasa, 21 April 2026 - 21:52 WIB

Sinergi Lintas Sektor Diperkuat, SPPI Tumijajar Gandeng Forkopimcam dalam Rapat Strategis.

Selasa, 21 April 2026 - 21:05 WIB

Lagi Dan Lagi Ungkap kasus Narkoba, Dua Pelaku dengan Puluhan Paket Sabu di Amankan Sat Narkoba Polres Lampung Utara

Selasa, 21 April 2026 - 15:36 WIB

Hari Kartini 2026: Mahasiswi Unair Asal Situbondo Ajak Gen Z Teladani Semangat Belajar Tanpa Batas R.A. Kartini

Selasa, 21 April 2026 - 13:58 WIB

Geger Penemuan Mayat di Rawa Tiyuh Karta, Polisi: Murni Meninggal Sakit

Senin, 20 April 2026 - 22:03 WIB

Buntut Audiensi Nihil Hasil, PKL Sorogenen Seret Dugaan Pungli ke Jalur Hukum

Senin, 20 April 2026 - 20:35 WIB

Geger! Sesosok Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Belakang Pabrik BTJ 

Berita Terbaru