Rupiah dan Fondasi Ekonomi Kita

- Jurnalis

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

REALITAPUBLIK.ID – Pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir. Ketika nilai tukar bergerak mendekati level tertinggi terhadap dolar Amerika Serikat, kekhawatiran masyarakat mulai meningkat. Tidak sedikit yang kemudian menghubungkan kondisi ini dengan ancaman krisis ekonomi atau melemahnya kemampuan negara dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

 

Di tengah situasi tersebut, masyarakat sebenarnya perlu melihat persoalan rupiah secara lebih objektif dan tidak sekadar terjebak pada kepanikan sesaat. Sebab, nilai tukar mata uang bukan hanya dipengaruhi satu faktor tunggal, melainkan hasil dari berbagai kondisi ekonomi yang saling berkaitan.

 

Dalam teori ekonomi makro, stabilitas nilai tukar sangat erat kaitannya dengan kekuatan fundamental ekonomi suatu negara. Ketika fondasi ekonomi dianggap kuat, investor akan memiliki kepercayaan tinggi sehingga arus modal cenderung masuk. Sebaliknya, ketika pasar melihat adanya ketidakpastian, maka tekanan terhadap mata uang akan semakin besar.

 

Saat ini, tekanan terhadap rupiah memang tidak bisa dilepaskan dari kondisi global. Dunia sedang berada dalam fase ketidakpastian yang cukup berat. Suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, konflik geopolitik belum stabil, dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat.

 

Dalam situasi seperti itu, investor global biasanya memilih memindahkan dananya ke aset yang dianggap aman, terutama dolar AS. Fenomena ini dikenal sebagai safe haven theory, yaitu kecenderungan pasar mencari instrumen yang paling aman ketika risiko global meningkat.

Baca Juga :  Rupiah Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS

 

Akibatnya, hampir seluruh negara berkembang mengalami tekanan nilai tukar, termasuk Indonesia.

 

Namun demikian, faktor eksternal sebenarnya hanya sebagian dari persoalan. Tekanan terhadap rupiah menjadi lebih berat ketika kondisi domestik belum cukup kuat menghadapi guncangan global.

 

Indonesia masih menghadapi persoalan struktural yang cukup klasik, salah satunya ketergantungan terhadap impor. Banyak kebutuhan industri nasional masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan berdampak terhadap biaya produksi dalam negeri.

 

Dampaknya kemudian dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang dan tekanan terhadap daya beli.

 

Selain itu, struktur ekspor Indonesia juga belum sepenuhnya kuat. Sebagian besar ekspor nasional masih bergantung pada komoditas mentah. Ketika harga komoditas dunia turun atau permintaan global melemah, penerimaan devisa ikut menurun.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih cukup rentan terhadap perubahan global.

 

Di sisi lain, pasar juga melihat bagaimana pemerintah mengelola kebijakan fiskal dan belanja negara. Dalam teori fiscal sustainability, stabilitas ekonomi sangat dipengaruhi kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara.

 

Belanja pemerintah memang penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, pasar tetap menilai apakah belanja tersebut produktif dan memiliki dampak jangka panjang terhadap perekonomian.

Baca Juga :  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik

 

Ketika pasar melihat tekanan fiskal meningkat atau ruang anggaran semakin terbatas, maka tingkat kepercayaan terhadap ekonomi nasional juga dapat menurun.

 

Karena itu, komunikasi pemerintah menjadi faktor yang sangat penting.

 

Dalam ekonomi modern, pasar tidak hanya bereaksi terhadap angka statistik, tetapi juga terhadap persepsi dan ekspektasi. Pernyataan pejabat publik, arah kebijakan, hingga konsistensi komunikasi dapat memengaruhi psikologi pasar.

 

Di sinilah pentingnya membangun komunikasi yang objektif dan transparan.

 

Pemerintah sebenarnya tidak perlu menutupi bahwa kondisi ekonomi global memang sedang sulit. Justru keterbukaan dan penjelasan yang rasional dapat membantu menjaga kepercayaan publik.

 

Masyarakat saat ini semakin kritis dan memiliki akses informasi yang luas. Karena itu, komunikasi yang terlalu normatif atau terlalu optimistis tanpa penjelasan substansi justru dapat menimbulkan keraguan.

 

Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu lebih bijak menyikapi situasi ekonomi. Tidak semua informasi di media sosial dapat dijadikan acuan. Banyak narasi ekonomi yang terlalu berlebihan sehingga memicu kepanikan yang tidak perlu.

 

Pelemahan rupiah memang perlu diwaspadai, tetapi bukan berarti Indonesia sedang berada di ambang krisis seperti tahun 1998. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif lebih baik dibanding masa krisis moneter dahulu.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.897 per Dolar AS, Pasar Masih Pantau Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS

 

Cadangan devisa masih terjaga, sektor perbankan relatif stabil, dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan.

 

Namun demikian, pemerintah tetap perlu bergerak cepat menjaga stabilitas ekonomi.

 

Langkah pertama adalah menjaga disiplin fiskal agar pasar tetap percaya terhadap kemampuan negara mengelola ekonomi. Kedua, memperkuat sektor industri dan ekspor bernilai tambah agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah.

 

Ketiga, memperkuat ketahanan ekonomi daerah melalui pengembangan UMKM, sektor pangan, dan ekonomi lokal.

 

Ketahanan ekonomi nasional tidak hanya dibangun dari pusat, tetapi juga dari kekuatan ekonomi masyarakat di daerah.

 

Pada akhirnya, persoalan rupiah bukan sekadar tentang kurs atau angka di pasar keuangan. Ini adalah persoalan mengenai fondasi ekonomi nasional.

 

Semakin kuat struktur ekonomi sebuah negara, semakin kuat pula kemampuan negara tersebut menghadapi tekanan global.

 

Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bahwa Indonesia membutuhkan ekonomi yang lebih produktif, lebih mandiri, dan lebih tahan terhadap gejolak dunia.

 

Sebab dalam ekonomi modern, stabilitas mata uang pada akhirnya sangat ditentukan oleh satu hal utama: kepercayaan terhadap masa depan ekonomi bangsa.(*)

 

Penulis: Dr. Muhammad Tahajjudi Ghifary, S.AB., M.PSDM.

Berita Terkait

Rupiah Menguat ke Rp17.897 per Dolar AS, Pasar Masih Pantau Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS
Rupiah Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik
KA Banyubiru Layani Rute Solo–Semarang PP, Cek Jadwal Keberangkatan dan Tarifnya
Nilai tukar Mata Rupiah Diprediksi akan Lanjut Menguat pada Pekan Depan
248 Belum Operasikan Gerai Resmi, Sejumlah Koperasi Desa Merah Putih di Batang Mulai Rintis Usaha Mandiri
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg, Amankan Pasokan LPG Nasional
Kelangkaan BBM Resahkan Warga Sumut, Polisi Didesak Periksa Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 23:24 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.897 per Dolar AS, Pasar Masih Pantau Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS

Rabu, 5 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Rupiah Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS

Rabu, 29 Juli 2026 - 05:03 WIB

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik

Senin, 27 Juli 2026 - 08:11 WIB

KA Banyubiru Layani Rute Solo–Semarang PP, Cek Jadwal Keberangkatan dan Tarifnya

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:41 WIB

Nilai tukar Mata Rupiah Diprediksi akan Lanjut Menguat pada Pekan Depan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:40 WIB

248 Belum Operasikan Gerai Resmi, Sejumlah Koperasi Desa Merah Putih di Batang Mulai Rintis Usaha Mandiri

Rabu, 15 Juli 2026 - 20:40 WIB

Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg, Amankan Pasokan LPG Nasional

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:58 WIB

Kelangkaan BBM Resahkan Warga Sumut, Polisi Didesak Periksa Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut

Berita Terbaru