Tulang Bawang Barat, Realitapublik.id — Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Provinsi Lampung, Yantoni, menerima laporan dari sejumlah masyarakat wali murid dan ibu hamil menyusui yang mengeluhkan soal masih banyak ditemukan pihak oknum dapur SPPG diduga melakukan kecurangan mengurangi porsi menu MBG.
Selain geram, Ketua Komisi I dari fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini memberikan penyampaian berupa ultimatum warning, dan meminta pihak BGN dapat bertindak tegas agar program MBG Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto berjalan dengan baik tidak disalah gunakan pihak oknum dapur MBG/SPPG.
“Kami dari DPRD kabupaten tubaba melalui lintas komisi sudah monitoring serta melakukan pembinaan, faktanya masih kita temukan dapur MBG atau SPPG mengurangi porsi dari ketentuan. ini akan menyebabkan kegagalan dalam pemenuhan gizi penerima manfaat. tegas Yantoni saat dikonfirmasi awak media, pada Rabu (4/3/2026)
Ketua komisi satu Yantoni juga menegaskan bahwa persoalan keluhan masyarakat soal porsi menu MBG dinilai tidak sesuai. Terparah memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026 bukanlah lagi rahasia umum, di kabupaten setempat viral langsung di postingan wali murid viral di akun media sosial facebook dan tik-tok.
“Kami sudah sampaikan langsung ke pihak BGN saat ada agenda bertemu dengan sekretaris deputi pengawasan dan penindakan. Tapi nyatanya masalah ini masih terjadi. Artinya BGN tidak serius dalam menanggapi laporan masyarakat soal adanya Roti menu MBG dibagian seberang kondisi busuk dan bau masih diberikan pihak dapur SPPG ke warga penerima program MBG ,” kata Yantoni.
Yantoni kembali menegaskan bahwa pihak BGN harus dapat mengambil sikap tegas jangan dalam menjalankan program Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto agar menu MBG yang diberikan pihak SPPG sesuai dengan standar ketentuan.
“Jika misalnya dapur MBG/SPPG Dayamurni Tumijajar Barokah Dua Putri naungan Yayasan Tuah Gizi Nusantara ditemukan benar menyalahi ketentuan aturan menu MBG yang tidak sesuai standar, itu bakal merusak program Presiden Republik Indonesia. BGN harus beri sangsi tegas,”tutupnya.
Di tempat terpisah Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dayamurni Tumijajar Barokah Dua Putri naungan Yayasan Tuah Gizi Nusantara Kabupaten Tulang Bawang Barat mengakui kesalahannya soal menu MBG yang diprotes wali murid.
“Mohon maaf memang benar selama ini saat pendistribusian menu makanan kering MBG ke sejumlah siswa siswi di sekolah pada bulan Ramadan 1447 Hijriah tahun 2026 selama ini belum diberi tabel daftar menu harga atau kandungan Gizi namun besok akan mulai kami kasih tabel menu MBG,” kata seseorang pengelola yang mengaku bertanggung jawab terhadap operasional dapur MBG/SPPG Dayamurni Tumijajar Barokah Dua Putri naungan Yayasan Tuah Gizi Nusantara.
Hal senada juga dikatakan driver Dapur MBG/SPPG Dayamurni Tumijajar Barokah Dua Putri, saat menyerahkan menu kering MBG yang diterima oleh siswa siswi di SDN 22 Tumijajar.
“Kami hanya pekerja driver soal tidak adanya tabel kertas menu saya tidak tahu karena tugas kami hanya mengantar menu MBG jika ada protes dari wali murid itu wewenang pihak bos kami yang punya yayasan,”ujarnya.
Diberitakan sebelumnya program MBG di Kabupaten Tulang Bawang Barat yang digadang-gadang sebagai solusi pemenuhan nutrisi anak sekolah dinilai belum memenuhi standar gizi yang diharapkan diprotes wali murid SDN 22 Tumijajar.
“Menu hari ini pada rabu 4 maret 2026 susu kotak kemasan kecil 1 kotak, jeruk 1 biji, tempe 2 iris, tahu 2 iris, dan tidak ada tabel kertas daftar rincian satuan harga serta kandungan gizi,” kata sejumlah wali murid.
Wali murid juga menilai menu yang diberikan kepada siswa di sekolah tersebut jauh dari kata ideal tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah pihak dapur SPPG jangan pura pura tidak tahu bahwa ada instruksi dari BGN
“Hari Selasa 3 Maret 2026 anak kami kelas 1 hingga 3, menu yang diberikan hanya berupa satu butir telur ayam, satu kotak susu dan satu buah pisang. Sementara untuk kelas 4 hingga 6, menunya terdiri dari satu butir telur bebek, satu buah roti, satu kotak susu, dan satu buah pisang.,”tuturnya
Mereka juga mempertanyakan adanya perbedaan menu antarjenjang kelas yang dianggap tidak memiliki dasar yang jelas. Padahal, secara teknis, menu MBG idealnya mengandung komposisi seimbang yang meliputi karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral secara proporsional.
“Ahli gizi harus paham kondisi ini memicu pertanyaan kami wali murid terkait pengawasan dan implementasi teknis di lapangan. Mengingat MBG adalah kebijakan strategis nasional yang menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar, BGN harus bertindak tegas,”pungkasnya (*)
Penulis : Rody Sandra







