REALITAPUBLIK.ID – Dalam kehidupan sehari-hari dan melakukan banyak interaksi dengan orang, tidak dapat dipungkiri akan menemukan konflik atau pertengkaran di dalamnya. Konflik ini, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun di lingkungan kerja.
Terkait terjadinya konflik baik dalam keluarga, masyarakat, maupun di lingkungan kerja yang saat ini masih menjadi perbincangan publik setelah membaca berita di sejumlah media online, mendapat perhatian khusus dari Dr. H. Fauzan, S.Pd., M.Si., Dosen UIN KHAS Jember.
Menurutnya, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan gesekan kepentingan adalah hal yang wajar dalam interaksi sosial.
Namun, bagaimana kita menyikapinya adalah hal yang menentukan apakah sebuah perbedaan akan berujung pada perpecahan atau justru menjadi peluang untuk memperkuat hubungan.
“Dalam Islam, konsep “Islah” atau perbaikan memiliki makna yang mendalam dalam membangun harmoni dan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk menjadi penengah untuk mendamaikan orang yang bertengkar,” kata Doktor yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan 3 FEBI UIN KHAS Jember ini kepada realitapublik.id, Minggu 16 Maret 2025.
Lebih lanjut Fauzan menjelaskan, bahwa secara etimologis, kata Islah berasal dari bahasa Arab إصلاح yang berarti perbaikan, rekonsiliasi, atau mendamaikan sesuatu yang rusak. Dalam konteks kehidupan, Islah tidak sekadar menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun kembali hubungan yang lebih kuat berdasarkan prinsip keadilan dan kebaikan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa: 114: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) untuk bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian (Islah) di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka Kami akan memberinya pahala yang besar”.
“Ayat ini menegaskan bahwa Islah adalah bagian dari perbuatan yang mulia dan berpahala besar. Ia bukan sekadar tindakan, melainkan sebuah prinsip dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.
Kemudian, Islah dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, Islah dalam Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, namun juga yang paling fundamental. Konflik dalam keluarga, baik antara suami-istri, orang tua-anak, maupun saudara, sering terjadi karena kurangnya komunikasi atau kesalahpahaman. Islah dalam keluarga berarti membangun kembali kepercayaan, saling memaafkan, dan berusaha memahami satu sama lain. Nabi Muhammad SAW mencontohkan bagaimana beliau memperlakukan keluarganya dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.
Kedua, Islah dalam Masyarakat
Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali muncul perbedaan pandangan yang dapat memicu pertikaian. Islah dalam masyarakat berarti berusaha menjadi jembatan dalam menyelesaikan konflik dan membangun kembali hubungan yang harmonis. Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan derajat yang lebih tinggi daripada puasa, shalat, dan sedekah?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “(Yaitu) mendamaikan perselisihan. Karena kerusakan hubungan adalah pembabat agama.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
“Hadis ini menekankan bahwa mendamaikan perselisihan memiliki nilai yang sangat besar dalam Islam, bahkan lebih utama daripada ibadah individu,” urainya.
Lalu, ketiga adalah Islah dalam Dunia Kerja
Dalam lingkungan profesional, persaingan, perbedaan pendapat, dan tekanan pekerjaan sering memicu ketegangan. Islah dalam dunia kerja berarti mengedepankan sikap profesional, saling menghormati, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dengan membangun budaya kerja yang positif dan inklusif, konflik dapat diminimalkan, dan produktivitas meningkat.
Keempat, Islah dalam Dunia Digital
Di era digital, perbedaan pendapat di media sosial sering kali berujung pada perdebatan yang tidak sehat. Islah dalam dunia digital berarti menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, menghindari ujaran kebencian, dan tidak mudah terpancing provokasi. Menjaga etika dalam berkomunikasi di media sosial adalah bentuk Islah yang relevan dengan zaman ini.
Saat ditanya mengapa Islah Itu penting? Fauzan menjelaskan bahwa yang pertama, Islah itu dapat menjaga persatuan dan kesatuan.
“Islah mencegah perpecahan yang bisa merusak tatanan sosial dan melemahkan suatu komunitas atau bangsa. Dengan semangat Islah, kita dapat menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan,” jelasnya. .
Kedua, Islah peting karena dapat meningkatkan kualitas hubungan. “Hubungan yang rusak akibat konflik dapat diperbaiki dengan Islah. Ketika seseorang bersedia meminta maaf dan memaafkan, hubungan bisa kembali terjalin dengan lebih kuat dan saling mendukung,” ujarnya.
Dan ketiga, Islah itu bisa mendapatkan keberkahan dan ketenangan. “Orang yang selalu berusaha melakukan Islah akan mendapatkan ketenangan hati dan keberkahan dalam hidupnya. Sebab, perbaikan hubungan adalah salah satu bentuk ibadah yang dicintai Allah SWT,” kata Fauzan.
Jadi kesimpulannya, Islah bukan sekadar konsep, tetapi sebuah prinsip hidup yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dari keluarga hingga masyarakat, dari dunia kerja hingga media sosial.
“Islah adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang lebih harmonis dan penuh berkah. Mari kita jadikan Islah sebagai bagian dari karakter dan kebiasaan kita, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain,” ucapnya.
Hal tersebut, lanjut Fauzan, seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali: “Jika engkau ingin melihat perubahan dalam dunia, mulailah dengan memperbaiki dirimu sendiri.”
“Mari kita mulai Islah dari diri sendiri, lalu menebarkannya ke sekitar kita, agar kehidupan ini menjadi lebih baik, damai, dan penuh makna,” pungkasnya.(*)
Penulis : Abdul Hakim






