PASURUAN realitapublik.id – Lapangan Bong Mancilan di Pohjentrek jadi pusat perhatian warga Kota Pasuruan dengan gelaran budaya “Uri-uri Budoyo” kegiatan ini di prakarsai oleh LSM-Bara yang diketuai Saiful, menunjukkan upaya serius dalam melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Acara “Uri-uri Budoyo” di Lapangan Bong Mancilan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Kapolsek Purworejo, Ayik Suhaya yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur LIRA, Badrus Salam dari LSM AJIB, dan Saiful Songot dari LSM PENJARA. Kamis (22/5/25)
Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh para tokoh seni dan ratusan masyarakat yang antusias hadir. Kehadiran tokoh-tokoh penting dan masyarakat ini menunjukkan besarnya minat dan dukungan terhadap pelestarian budaya lokal dan kegiatan positif di Kota Pasuruan.
Kegiatan “Uri-uri Budoyo” tidak hanya memperkaya pengalaman budaya masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi para pedagang kecil di sekitar lokasi acara. Dengan banyaknya pengunjung yang datang, para pedagang kecil dapat meningkatkan penjualan dan pendapatan mereka. Ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya seperti “Uri-uri Budoyo” dapat menjadi peluang bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi sambil melestarikan budaya.
Ratusan warga Pasuruan menikmati pertunjukan seni tradisional yang memukau, termasuk tarian dan musik khas Jawa Timur, serta berbagai wahana hiburan keluarga yang menambah kemeriahan suasana. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya budaya sebagai identitas bangsa.
Dengan demikian, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur dan memperkuat jati diri masyarakat. Melalui kegiatan seperti “Uri-uri Budoyo”, masyarakat dapat terus terhubung dengan akar budaya mereka sambil menikmati hiburan yang berkualitas.

Pohjentrek sendiri memiliki beberapa titik penting yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan kegiatan sosial, seperti:
– Pencak Silat Kuntu Mancilan: Warisan budaya Kota Pasuruan yang sudah berusia dua abad dan masih lestari hingga kini. Perguruan ini memiliki 16 ranting yang tersebar di Kota dan Kabupaten Pasuruan, bahkan hingga satu ranting di Bali.
– Sekolah dan Pendidikan: Beberapa sekolah di sekitar Pohjentrek, seperti RA Darul Ulum Mancilan dan MIS Darul Ulum Mancilan, menunjukkan adanya upaya pendidikan yang kuat di wilayah tersebut.
Ayik Suhaya menambahkan keseruan dalam momen kebersamaan dengan memberikan door prize berupa uang tunai kepada tiga peserta yang terpilih secara langsung di tengah keramaian.
Selain itu, beliau juga mengucapkan teks Pancasila dengan lantang, sebagai bentuk penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kesadaran akan pentingnya ideologi negara di tengah masyarakat.
“Langkah ini menunjukkan komitmen dalam mempromosikan persatuan dan kesatuan bangsa melalui momen-momen kebudayaan dan kebersamaan. Dengan adanya gelaran budaya “Uri-uri Budoyo” dan kegiatan lainnya, Pohjentrek menunjukkan semangat dalam melestarikan budaya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya,” jelas Ayik.
Dengan demikian, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan leluhur dan memperkuat jati diri masyarakat. Melalui kegiatan seperti “Uri-uri Budoyo”, masyarakat dapat terus terhubung dengan akar budaya mereka sambil menikmati hiburan yang berkualitas.
“Kegiatan ini menunjukkan komitmen masyarakat dan tokoh-tokoh penting dalam melestarikan budaya lokal dan memperkuat identitas bangsa. Dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, hiburan keluarga, dan momen kebersamaan, “Uri-uri Budoyo” menjadi contoh nyata upaya pelestarian budaya yang dapat menginspirasi masyarakat lainnya,” tutupnya.
Penulis : Koko
Editor : Chu







