PEKALONGAN, Realitapublik.id — Komitmen kemanusiaan LSM Pejuang 24 teruji pada akhir pekan. Meskipun operasional rutin dapur umum dijadwalkan istirahat pada hari Sabtu dan Minggu, lembaga ini tetap turun ke lapangan untuk memastikan warga terdampak banjir tidak kekurangan pasokan pangan, Minggu (01/02/2026).
LSM Pejuang 24 melakukan adaptasi distribusi dengan menyalurkan paket pangan siap konsumsi sebagai solusi praktis bagi warga di wilayah terdampak.
Penyaluran bantuan kali ini difokuskan di wilayah RT 02 RW 03 Desa Karangjompo, Dukuh Pulosari. Bantuan berupa paket roti, mi instan, dan air mineral diserahkan langsung kepada perwakilan warga, yakni Hendri, Abas, dan Rasup, untuk diteruskan kepada keluarga yang membutuhkan.
Skema ini diambil untuk menyiasati keterbatasan tenaga relawan tanpa harus memutus rantai bantuan kepada masyarakat yang kondisi dapurnya masih belum pulih akibat banjir.
Ketua LSM Pejuang 24, Teguh Hadi Santoso, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk dedikasi organisasi yang tidak terpaku pada rutinitas dapur umum semata.
“Seharusnya hari Sabtu dan Minggu dapur umum kami beristirahat dan tidak memasak. Namun, melihat kondisi warga yang masih membutuhkan, kami siasati dengan menyalurkan bantuan berupa roti, mi instan, dan air mineral. Yang terpenting, warga tetap terbantu meski dengan skema yang lebih sederhana,” jelas Teguh Hadi Santoso.
Ia menambahkan bahwa pola distribusi alternatif ini sangat efektif untuk menjaga kesinambungan logistik di tengah keterbatasan tenaga pada akhir pekan, sehingga bantuan tetap menjangkau akar rumput.
Para perwakilan wilayah di Dukuh Pulosari menyambut baik inisiatif ini. Bantuan pangan siap saji dinilai sangat meringankan beban warga, terutama mereka yang masih mengalami kendala dalam mengolah makanan secara mandiri akibat sisa-sisa genangan banjir.
Melalui aksi ini, LSM Pejuang 24 membuktikan bahwa kreativitas dan kemampuan beradaptasi di lapangan menjadi kunci keberhasilan aksi kemanusiaan. Meski dengan pola yang lebih simpel, esensi kehadiran mereka tetap dirasakan nyata oleh masyarakat Pekalongan.
Penulis : Wildan







