BATANG (Realitapublik.id) — Kabar baik bagi warga masyarakat Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang berencana melakukan percepatan pembangunan infrastruktur penerangan jalan umum massal melalui proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Alat Penerangan Jalan Umum (KPBU APJU).
Langkah taktis ini diharapkan mampu meningkatkan keamanan masyarakat di malam hari, menekan angka kecelakaan lalu lintas, sekaligus merangsang urat nadi pertumbuhan ekonomi daerah. Hal tersebut ditegaskan oleh Penjabat (Pj) Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, saat memberikan pemaparan di Aula Bupati Batang, Kamis (21/5/2026).
Faiz mengungkapkan bahwa pemenuhan kebutuhan penerangan jalan di Kabupaten Batang saat ini sudah masuk dalam kategori mendesak. Infrastruktur yang ada saat ini dinilai belum sebanding dengan laju pertumbuhan daerah.
Darurat Penerangan Jalan Umum di Kabupaten Batang:
Persentase Kekurangan Lampu: Tingkat kegelapan jalan masih mencapai 69,6 persen, yang didominasi oleh jalanan di kawasan pedesaan.
Kasus Kecelakaan Tahun 2023: Tercatat sebanyak 510 kasus.
Kasus Kecelakaan Tahun 2024: Meningkat menjadi 520 kasus.
Kasus Kecelakaan Tahun 2025: Kembali melonjak hingga menembus 550 kasus.
Target Pemasangan Baru: Sebanyak 9.387 titik lampu baru akan dipasang tersebar di wilayah strategis.
“Kondisi ini membuat masih banyak jalan di desa-desa gelap gulita, sehingga perlu dilakukan percepatan pembangunan penerangan jalan. Minimnya aspek penerangan ini memiliki dampak linier dan instan terhadap keselamatan masyarakat, salah satunya memicu kenaikan angka kecelakaan lalu lintas dalam tiga tahun terakhir,” ujar M. Faiz Kurniawan.
Selain faktor keselamatan berkendara, ketersediaan lampu jalan dinilai krusial untuk menekan potensi aksi kriminalitas jalanan seperti pembegalan yang marak terjadi belakangan ini. Hal ini sekaligus memberikan rasa aman bagi para pekerja industri di Batang yang dituntut bermobilitas pada malam hari.
Faiz menjelaskan, pertumbuhan kawasan industri di Batang membuat banyak perusahaan menerapkan sistem kerja shift malam, di mana mayoritas pekerjanya adalah kaum perempuan. Jalanan yang gelap dinilai menjadi titik rawan yang membahayakan keselamatan para pekerja tersebut saat pulang atau pergi bekerja.
“Kalau jalannya terang, masyarakat merasa lebih aman. Selain itu, jam operasional aktivitas ekonomi makro maupun mikro di tengah masyarakat juga bisa berjalan lebih panjang dan dinamis,” papar Faiz.
Ia menganalogikan kota-kota besar metropolitan seperti Semarang, Jakarta, hingga Tokyo. Kota-kota tersebut mampu tumbuh produktif selama 24 jam penuh karena disokong oleh fondasi infrastruktur penerangan jalan yang sangat memadai.
Guna mempercepat realisasi megaproyek pemasangan 9.387 titik lampu ini tanpa harus menguras habis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Pemkab Batang mengambil langkah cerdas dengan menggunakan skema KPBU atau Public Private Partnership (kemitraan pemerintah dengan swasta).
Melalui skema ini, pembiayaan awal akan disokong oleh badan usaha pemenang proyek, sehingga percepatan pembangunan dapat langsung dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan pos anggaran belanja daerah untuk sektor esensial lainnya.
Program strategis dari Pemkab Batang ini patut mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari semua elemen masyarakat. Warga berharap proyek APJU ini dapat segera direalisasikan di lapangan agar tidak ada lagi sudut-sudut jalanan desa di Batang yang rawan kejahatan akibat gelap gulita. (*)
Penulis : Fery Eka spt






