Menengok Potensi Pasar Karangketug, Pusat Ekonomi dan Ruang Kelestarian Budaya Jawa

- Jurnalis

Minggu, 31 Mei 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

KOTA PASURUAN realitapublik.id – Keberadaan Pasar Karangketug yang terletak di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, kian mempertegas posisinya sebagai salah satu urat nadi perekonomian daerah. Memiliki letak yang sangat strategis, pasar ini kini bertumbuh menjadi pusat keramaian kedua terbesar di Kota Pasuruan setelah Pasar Senggol.

 

Sebagai pusat perbelanjaan yang inklusif, Pasar Karangketug menyediakan hampir seluruh kebutuhan masyarakat, mulai dari komoditas pokok (primer) hingga kebutuhan sekunder. Aktivitas transaksi di pasar ini terpantau sangat padat, terutama pada pagi hari saat warga sekitar dan para pedagang berdatangan untuk kulakan atau berbelanja ikan segar serta berbagai makanan ringan.

Salah satu pedagang akik yang membawa ratusan dagangannya. (Realita Publik)

 

Titik puncak kepadatan Pasar Karangketug terjadi setiap hari Minggu pagi. Selain menjadi tempat berbelanja, pasar ini telah bertransformasi menjadi destinasi favorit masyarakat untuk menikmati hari libur. Daya tarik utamanya adalah gelaran lomba kicau burung serta keberadaan lapak pernak-pernik antik, seperti batu akik dan keris pusaka.

Baca Juga :  Cetak Aparatur Berkarakter, BPSDM Jatim dan Rindam V/Brawijaya Gelar Latsar CPNS 2026

 

Perkembangan dinamis Pasar Karangketug ini turut memikat perhatian masyarakat luas, tak terkecuali Ayi Suhaya, S.H., seorang pencinta budaya sekaligus pemerhati peninggalan leluhur Nusantara. Di sela-sela waktu santainya, Ayi kerap berkunjung ke pasar ini untuk menikmati keelokan barang-barang seni khas Jawa.

 

“Saya pribadi adalah pencinta Wesi aji (keris) dan penggemar batu akik. Saya hadir langsung dan ikut membeli di sini karena Pasar Karangketug menjadi ruang berkumpulnya para penjual batu akik dan keris dari berbagai daerah,” ujar Ayi. Minggu (31/5/26)

 

Lebih lanjut, Ayi mengupas filosofi mendalam di balik benda-benda tersebut dalam kebudayaan Jawa. Ia menjelaskan bahwa keris merupakan bagian dari Wesi aji yang bermakna ajining pusoko (kehormatan sebuah pusaka), sedangkan batu akik merupakan watu aji yang mengandung arti ajining mustiko (kehormatan sebuah mustika).

Baca Juga :  Sasar 4 Poin SDGs, Dosen Manajemen UPN Veteran Jatim Dampingi Petani Jeruk Gadingkulom Dorong Kualitas Panen

 

Kendati menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa, pesatnya pertumbuhan jumlah pedagang di pasar ini mulai memicu persoalan baru. Setiap hari Minggu, pelataran pedagang akik kian meluas hingga memakan bahu jalan, yang dampaknya kerap menimbulkan kemacetan arus lalu lintas di sekitar lokasi.

 

Melihat kondisi tersebut, Ayi Suhaya memberikan catatan kritis sekaligus masukan kepada Pemerintah Kota Pasuruan, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Menurutnya, fenomena ini adalah bukti nyata bahwa Pasar Karangketug memiliki daya serap ekonomi yang tinggi bagi ribuan warga, sehingga pemerintah daerah harus cepat tanggap dalam memikirkan tempat yang layak bagi para pedagang.

 

“Saya berharap kepada Pemerintah Kota Pasuruan agar tempat-tempat pedagang akik dan pusaka ini ditata dengan bagus agar kelihatan rapi. Jika dikasih fasilitas tempat khusus yang layak, pasar akan semakin ramai pengunjung, minat masyarakat meningkat, dan kemacetan jalan bisa dihindari. Ini adalah potensi income yang besar bagi perekonomian daerah,” jelasnya.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Pemprov Jateng dan PLN Kolaborasi Beri Bantuan Pasang Baru Listrik untuk 1.000 Keluarga Kurang Mampu

 

Ayi menambahkan bahwa Wali Kota Pasuruan diharapkan dapat merespons persoalan ini secara cerdas dan bijak. Langkah penataan tempat yang representatif bagi para pedagang batu akik dan benda pusaka di Pasar Karangketug tidak hanya akan mengurai kesemrawutan lalu lintas, tetapi juga menjadi stimulan positif bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis pelestarian budaya.

“Wali Kota Pasuruan harus cerdas, cepat tanggap untuk menata pedagang akik dan pusaka biar tempatnya layak untuk mengais rejeki. Jangan masa bodoh tok!,” seru Ayi Suhaya.

Penulis : Chu

Berita Terkait

Megaproyek Giant Sea Wall Pantura Bakal Melibatkan 5 Provinsi dan 25 Daerah
Cetak Aparatur Berkarakter, BPSDM Jatim dan Rindam V/Brawijaya Gelar Latsar CPNS 2026
Sasar 4 Poin SDGs, Dosen Manajemen UPN Veteran Jatim Dampingi Petani Jeruk Gadingkulom Dorong Kualitas Panen
Kabar Gembira, Pemprov Jateng dan PLN Kolaborasi Beri Bantuan Pasang Baru Listrik untuk 1.000 Keluarga Kurang Mampu
Rupiah dan Fondasi Ekonomi Kita
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 18:00 WIB

Menengok Potensi Pasar Karangketug, Pusat Ekonomi dan Ruang Kelestarian Budaya Jawa

Senin, 25 Mei 2026 - 15:34 WIB

Megaproyek Giant Sea Wall Pantura Bakal Melibatkan 5 Provinsi dan 25 Daerah

Senin, 25 Mei 2026 - 15:12 WIB

Cetak Aparatur Berkarakter, BPSDM Jatim dan Rindam V/Brawijaya Gelar Latsar CPNS 2026

Senin, 25 Mei 2026 - 05:47 WIB

Sasar 4 Poin SDGs, Dosen Manajemen UPN Veteran Jatim Dampingi Petani Jeruk Gadingkulom Dorong Kualitas Panen

Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:03 WIB

Kabar Gembira, Pemprov Jateng dan PLN Kolaborasi Beri Bantuan Pasang Baru Listrik untuk 1.000 Keluarga Kurang Mampu

Jumat, 15 Mei 2026 - 21:45 WIB

Rupiah dan Fondasi Ekonomi Kita

Berita Terbaru