PASURUAN, realitapublik.id — Sejumlah tokoh budaya, organisasi kemasyarakatan, dan perwakilan lintas komunitas menggelar kegiatan silaturahmi budaya dalam rangka mempererat persatuan. Pertemuan ini berlangsung di kediaman salah satu tokoh budaya, Ki Eko Susiono, di Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Sabtu (18/07/2026) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan tokoh penting dan perwakilan berbagai organisasi. Di antaranya adalah tokoh dari komunitas Hindu, perwakilan KPPTIKA, Pasurpati, Matra, serta sejumlah organisasi dan komunitas pegiat budaya lainnya di wilayah Pasuruan.

Ki Eko Susiono selaku Ketua DPD Bidang Organisasi Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara (LP2BN), dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur kehadirat Sang Pencipta serta mengapresiasi kehadiran para tokoh lintas komunitas tersebut.
“Acara ini kami gelar untuk menjalin persatuan warga dan para pegiat budaya, sehingga kebudayaan Pasuruan semakin mengakar, berkembang, dan memiliki dampak positif di tengah masyarakat. Kami ingin budaya Pasuruan semakin dikenal oleh khalayak luas,” ujarnya.

Pertemuan lintas elemen ini menjadi ajang efektif untuk mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan berbagai warisan budaya khas Pasuruan yang bernilai tinggi.
Senada dengan hal itu, perwakilan Paguyuban Penghayat Kepercayaan Sapta Buda, Ki Aditya, menjelaskan bahwa kebersamaan para tokoh budaya ini diharapkan mampu mendongkrak kepedulian masyarakat terhadap aktivitas pelestarian kearifan lokal.
“Kegiatan kebudayaan sebenarnya tidak pernah berhenti. Masyarakat terus bergerak menjaga dan mengembangkan warisan leluhur. Oleh karena itu, kami berharap seluruh elemen bisa saling mendukung agar kebudayaan Pasuruan tetap lestari,” kata Ki Aditya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan aspirasi kepada pemerintah daerah agar dapat memberikan perhatian yang merata kepada seluruh paguyuban dan komunitas budaya, tanpa ada diskriminasi.
“Harapan kami, Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Kota Pasuruan benar-benar hadir untuk merangkul semua paguyuban sesuai dengan potensi kebudayaannya masing-masing. Dengan begitu, Pasuruan dapat dikenal sebagai daerah yang menghargai keberagaman budaya serta memberikan ruang yang adil bagi seluruh komunitas,” pungkasnya. (*)
Penulis : Chu






