PASURUAN realitapublik.id — Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan akan kembali menggelar peringatan Haul ke-45 Al-Maghfurlah Al-‘Arif Billah KH. Abdul Hamid bin Abdulloh Umar. Acara tahunan ini dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026 (bertepatan dengan 9 Rabiul Awal 1448 H), mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.
Hajatan besar tersebut berpusat langsung di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah, yang berlokasi di Jalan KH. Abdul Hamid Gang VIII/14, Kota Pasuruan.
Untuk memfasilitasi jutaan umat Islam, santri, serta para ulama dari berbagai daerah yang berhalangan hadir secara langsung secara fisik di lokasi, pihak panitia telah menyiapkan alternatif berupa akses digital. Seluruh rangkaian prosesi haul dapat disaksikan secara langsung melalui tayangan live streaming di kanal YouTube resmi Salafiyah Media Kota Pasuruan dan Bayt Al-Hikmah Official.
Profil Singkat dan Rekam Jejak KH. Abdul Hamid
KH. Abdul Hamid dikenal luas sebagai sosok ulama karismatik yang penuh keteladanan. Dedikasi keilmuan, kesalehan, serta perjalanan hidupnya terus menjadi inspirasi dan dikenang oleh umat Islam lintas generasi hingga hari ini.
Beliau dilahirkan pada kisaran tahun 1914–1915 Masehi atau bertepatan dengan tahun 1333 Hijriah. Sepanjang hayatnya, tokoh besar ini sempat mengalami perubahan nama sebanyak dua kali. Lahir dengan nama kecil Abdul Mu’thi, nama beliau kemudian diubah menjadi Abd. Hamid saat menunaikan ibadah haji di tanah suci. Di kemudian hari, beliau secara mandiri menetapkan namanya menjadi Haji Hamid.
Perjalanan spiritual dan intelektual beliau dalam menuntut ilmu sangat panjang. Pada periode tahun 1926–1927 M, beliau memulai rihlah ilmiahnya di daerah Kasingan, Rembang, selama kurang lebih satu setengah tahun. Setelah itu, Kiai Hamid melanjutkan pendidikan mendalam ke Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, dan bermukim di sana selama 12 tahun lamanya.
Ikatan beliau dengan Kota Pasuruan dimulai pasca-menyelesaikan pendidikan di Tremas. Beliau dipinang oleh ulama besar KH. Ahmad Qusyairi untuk dinikahkan dengan putri ketujuhnya yang bernama Nyai Nafisah. Pernikahan bersejarah tersebut berlangsung pada tanggal 12 September 1940 M (9 Syakban 1357 H), yang sekaligus menandai awal mula beliau menetap menetap sebagai warga Pasuruan.
Memasuki tahun 1951, KH. Abdul Hamid secara resmi dipercaya memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai pengasuh utama di Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan. Setelah puluhan tahun berdakwah dan mendidik ribuan santri, sang ulama wafat menghadap Sang Khalik pada tanggal 9 Rabiul Awal 1403 H atau bertepatan dengan 25 Desember 1982 M.(*)
Penulis : Gus Herman
Editor : Saichu






