JAWA TENGAH realitapublik.id – Ribuan nelayan di sepanjang jalur Pantura Jawa Tengah terpaksa berhenti melaut akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang melanda wilayah perairan Utara Jawa. Fenomena “Musim Baratan” ini membuat para nelayan memilih menambatkan perahu mereka guna menghindari risiko kecelakaan laut.
Pantauan di sejumlah pelabuhan perikanan mulai dari Tegal, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Pati, hingga Rembang, menunjukkan deretan kapal yang hanya bersandar di dermaga. Kondisi ini berdampak langsung pada pasokan ikan yang menipis dan memicu kenaikan harga di pasaran.
Kastari, seorang nelayan dari Celong, Kabupaten Batang, mengungkapkan bahwa keselamatan menjadi alasan utama mereka tidak melaut. “Cuaca di perairan sedang ekstrem dan terjadi gelombang tinggi. Kami memilih istirahat melaut daripada bertaruh nyawa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Warno, nelayan asal Krapyak, Pekalongan. Menurutnya, minimnya pasokan akibat hanya kapal besar yang berani melaut telah mengerek harga ikan konsumsi.
“Harga ikan laut yang biasa dikonsumsi masyarakat sekarang naik ke kisaran Rp26.000 lebih per kilogram, dari harga normal yang sebelumnya masih di bawah Rp20.000,” ungkap Warno.
Sementara itu di Pelabuhan Wedung, Demak, nelayan menghadapi kendala ganda. Selain gelombang tinggi, banjir rob juga menyulitkan operasional. “Setiap malam hingga dini hari rob merendam, kami kesulitan menjangkau pelabuhan untuk bongkar muat hasil tangkapan,” keluh Suradi, nelayan setempat.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang merilis peringatan dini cuaca buruk pada Sabtu (27/12/2025).
Tinggi Gelombang: Berpotensi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di wilayah perairan Pekalongan-Kendal, Semarang-Demak, dan Pati-Rembang.
Kecepatan Angin: Berisiko tinggi bagi aktivitas pelayaran jika kecepatan angin melampaui 15 knot.
Banjir Rob: Ketinggian air pasang maksimum diprediksi mencapai 1 meter pada pukul 00.00 hingga 04.00 WIB.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Arif N, menambahkan bahwa cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi melanda 24 daerah di Jawa Tengah.
“Masyarakat diminta mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung, terutama di wilayah pegunungan dan pesisir,” tegas Arif.
Beberapa daerah yang masuk dalam zona waspada antara lain: Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Wonosobo, Boyolali, Kudus, Temanggung, Kajen, Slawi, hingga Magelang.
Masyarakat, khususnya para pelaku aktivitas kelautan, diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG sebelum memutuskan untuk beraktivitas.
Penulis : Fery Eka







