KOTA PEKALONGAN realitapublik.id – Program pengembangan padi Biosalin di Kota Pekalongan mencatatkan prestasi gemilang. Inovasi yang memanfaatkan lahan pesisir terdampak rob ini tidak hanya berhasil mengubah lahan tidur menjadi produktif, tetapi juga sukses meraih penghargaan Insan Pertanian sebagai inovasi pertanian terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2025.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, mengungkapkan bahwa program ini merupakan jawaban atas kerinduan petani di wilayah utara untuk kembali menggarap sawah mereka yang sebelumnya terkunci salinitas tinggi akibat rob.
Lili menjelaskan, inisiatif ini bermula pada akhir 2023 saat kondisi genangan air laut mulai surut. Dinperpa kemudian merintis proyek percontohan (demplot) seluas 1,2 hektare pada November 2024.
“Meskipun panen pertama belum maksimal, demplot tersebut membuktikan bahwa padi biosalin mampu tumbuh di lahan pesisir. Keberhasilan ini memicu kepercayaan petani. Dalam waktu kurang dari setahun, luas tanam kini berkembang pesat hingga lebih dari 40 hektare,” ujar Lili saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (31/12/2025).
Seiring bertambahnya luasan lahan, tantangan utama bergeser pada ketersediaan air tawar untuk pengaturan salinitas. Dinperpa bergerak cepat dengan mengusulkan perbaikan infrastruktur kepada Kementerian Pekerjaan Umum.
Hasilnya, melalui Inpres Tahun Anggaran 2025, BBWS Pemali Juana telah melaksanakan pembangunan dan perbaikan irigasi di tujuh titik strategis di Kota Pekalongan. Infrastruktur ini diharapkan menjadi tulang punggung keberlanjutan sawah produktif di kawasan pesisir.
Lili menambahkan, ke depan pengembangan biosalin akan diarahkan pada pendekatan pertanian organik. Dinperpa telah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Kementerian Pertanian, Bank Indonesia, BRI, hingga BRNP untuk memperkuat ekosistem ini.
Salah satu target paling ambisius adalah mengatasi kelangkaan bibit biosalin yang selama ini sulit didapatkan di pasaran umum.
“Tantangan kita saat ini adalah stok bibit yang terbatas. Namun, dengan dukungan Bank Indonesia, kami menargetkan pada tahun 2026 Kota Pekalongan sudah mampu menyediakan bibit biosalin secara mandiri untuk kebutuhan petani lokal maupun daerah sekitar,” pungkasnya.
Inovasi Biosalin kini menjadi simbol resiliensi petani Kota Pekalongan dalam menghadapi perubahan iklim dan ancaman rob, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan lahan pesisir bukan halangan untuk mencapai kedaulatan pangan.
Penulis : Wildan







