KOTA PASURUAN realitapublik.id — Besarnya angka Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Kota Pasuruan tahun anggaran 2025 memicu “gempa” kritik dari aktivis dan tokoh masyarakat. Wakil Gubernur LSM LIRA Jawa Timur, Ayi Suhaya, S.H., didampingi tokoh pemuda Zainul, secara blak-blakan menelanjangi kegagalan Pemerintah Kota Pasuruan dalam menyerap anggaran yang dinilai sebagai pengkhianatan terhadap kesejahteraan rakyat, Rabu (22/04/2026).
Ayi Suhaya menyoroti ironi besar di satu sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) meroket hingga Rp 219,21 miliar, namun di sisi lain terdapat dana mengendap (SILPA) sebesar Rp 95,37 miliar yang gagal dikonversi menjadi pembangunan nyata.
Kritik paling tajam yang dilemparkan Ayi Suhaya adalah dugaan motif terselubung di balik tidak terserapnya anggaran fantastis tersebut. Ia secara terbuka mencurigai adanya oknum pejabat yang sengaja membiarkan uang rakyat “parkir” di bank demi memanen keuntungan pribadi dari bunga deposito.
“Uang sebesar Rp 95,37 miliar ini apakah sengaja ditampung oknum pejabat untuk didepositokan? Patut diduga ada niat mencari keuntungan pribadi dari bunga bank. Jika setahun dana itu mengendap, berapa miliar bunga yang dihasilkan? Ini bukan lagi soal inkompetensi, tapi aroma amis yang harus diendus oleh Aparat Penegak Hukum (APH)!” tegas Ayi Suhaya dengan nada geram.
Ia mendesak Kepolisian, Kejaksaan, hingga KPK untuk segera membedah aliran dana dan kebijakan keuangan Pemkot Pasuruan guna memastikan tidak ada praktik “ternak bunga” di balik lambatnya penyerapan anggaran.
Menurut Ayi, besarnya SILPA adalah rapor merah bagi Walikota, Wakil Walikota, Sekda, hingga seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ia menilai mereka gagal menciptakan program inovatif untuk mengentaskan kemiskinan yang masih menjerat warga Kota Pasuruan.
Ironi kemiskinan juga disorotnya, di saat dana puluhan miliar menganggur, angka pengangguran masih tinggi. Kritik program juga dibahas, Ayi menyebut dana tersebut seharusnya bisa digunakan untuk hibah UMKM massal, santunan anak yatim, hingga jaminan kesehatan dan pendidikan gratis total.
Ia menyindir laporan bawahan yang hanya bersifat budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) tanpa melihat realitas penderitaan masyarakat di bawah.
Tak berhenti di masalah anggaran umum, Ayi Suhaya juga membongkar dugaan kebohongan publik terhadap para atlet berprestasi. Bonus juara yang dijanjikan Rp 30 juta kabarnya hanya cair Rp 10 juta, ditambah janji pengangkatan pegawai yang hingga kini menguap begitu saja.
“Padahal dana SILPA sebesar itu sangat cukup untuk memuliakan anak muda berprestasi agar SDM kita cerdas. Mereka sudah berjuang, tapi justru diberi ‘angin surga’ oleh pejabatnya sendiri,” imbuh Ayi.
Menutup pernyataannya, Wagub LIRA Jatim ini melayangkan ultimatum keras kepada pucuk pimpinan Kota Pasuruan. Jika tidak mampu berinovasi dan hanya mahir menyimpan uang di bank, mundur adalah jalan ksatria.
“Jika Anda tidak mampu menjalankan kebijakan yang pro-rakyat dan tidak sanggup menampung aspirasi, silakan angkat kaki dari kursi jabatan! Kota Pasuruan butuh pemimpin yang punya nyali dan hati, bukan sekadar ‘tukang simpan uang’ yang membiarkan rakyatnya kelaparan di atas tumpukan anggaran,” pungkasnya.
Penulis : Chu







