KOTA PASURUAN realitapublik.id – Keberadaan Pasar Karangketug yang terletak di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, kian mempertegas posisinya sebagai salah satu urat nadi perekonomian daerah. Memiliki letak yang sangat strategis, pasar ini kini bertumbuh menjadi pusat keramaian kedua terbesar di Kota Pasuruan setelah Pasar Senggol.
Sebagai pusat perbelanjaan yang inklusif, Pasar Karangketug menyediakan hampir seluruh kebutuhan masyarakat, mulai dari komoditas pokok (primer) hingga kebutuhan sekunder. Aktivitas transaksi di pasar ini terpantau sangat padat, terutama pada pagi hari saat warga sekitar dan para pedagang berdatangan untuk kulakan atau berbelanja ikan segar serta berbagai makanan ringan.

Titik puncak kepadatan Pasar Karangketug terjadi setiap hari Minggu pagi. Selain menjadi tempat berbelanja, pasar ini telah bertransformasi menjadi destinasi favorit masyarakat untuk menikmati hari libur. Daya tarik utamanya adalah gelaran lomba kicau burung serta keberadaan lapak pernak-pernik antik, seperti batu akik dan keris pusaka.
Perkembangan dinamis Pasar Karangketug ini turut memikat perhatian masyarakat luas, tak terkecuali Ayi Suhaya, S.H., seorang pencinta budaya sekaligus pemerhati peninggalan leluhur Nusantara. Di sela-sela waktu santainya, Ayi kerap berkunjung ke pasar ini untuk menikmati keelokan barang-barang seni khas Jawa.
“Saya pribadi adalah pencinta Wesi aji (keris) dan penggemar batu akik. Saya hadir langsung dan ikut membeli di sini karena Pasar Karangketug menjadi ruang berkumpulnya para penjual batu akik dan keris dari berbagai daerah,” ujar Ayi. Minggu (31/5/26)
Lebih lanjut, Ayi mengupas filosofi mendalam di balik benda-benda tersebut dalam kebudayaan Jawa. Ia menjelaskan bahwa keris merupakan bagian dari Wesi aji yang bermakna ajining pusoko (kehormatan sebuah pusaka), sedangkan batu akik merupakan watu aji yang mengandung arti ajining mustiko (kehormatan sebuah mustika).
Kendati menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa, pesatnya pertumbuhan jumlah pedagang di pasar ini mulai memicu persoalan baru. Setiap hari Minggu, pelataran pedagang akik kian meluas hingga memakan bahu jalan, yang dampaknya kerap menimbulkan kemacetan arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Melihat kondisi tersebut, Ayi Suhaya memberikan catatan kritis sekaligus masukan kepada Pemerintah Kota Pasuruan, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Menurutnya, fenomena ini adalah bukti nyata bahwa Pasar Karangketug memiliki daya serap ekonomi yang tinggi bagi ribuan warga, sehingga pemerintah daerah harus cepat tanggap dalam memikirkan tempat yang layak bagi para pedagang.
“Saya berharap kepada Pemerintah Kota Pasuruan agar tempat-tempat pedagang akik dan pusaka ini ditata dengan bagus agar kelihatan rapi. Jika dikasih fasilitas tempat khusus yang layak, pasar akan semakin ramai pengunjung, minat masyarakat meningkat, dan kemacetan jalan bisa dihindari. Ini adalah potensi income yang besar bagi perekonomian daerah,” jelasnya.
Ayi menambahkan bahwa Wali Kota Pasuruan diharapkan dapat merespons persoalan ini secara cerdas dan bijak. Langkah penataan tempat yang representatif bagi para pedagang batu akik dan benda pusaka di Pasar Karangketug tidak hanya akan mengurai kesemrawutan lalu lintas, tetapi juga menjadi stimulan positif bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis pelestarian budaya.
“Wali Kota Pasuruan harus cerdas, cepat tanggap untuk menata pedagang akik dan pusaka biar tempatnya layak untuk mengais rejeki. Jangan masa bodoh tok!,” seru Ayi Suhaya.
Penulis : Chu






