KOTA PASURUAN realitapublik.id – Paguyuban Kaweruh Batin Tulis Tanpo Papan Kasunyatan (KBTTPK) Cabang Pasuruan menyelenggarakan acara Pahargyan 10 Sura 1959 Jawa dengan pagelaran wayang kulit yang sangat spesial.
Acara ini menampilkan dua dalang terampil, Ki Sudarto dan Ki Trihandoko, yang dibawakan dengan diiringi oleh karawitan Sekarsari di padepokan Ki Soleh, Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Ki Ayik Suhaya, Lurah Nyi Lailul, Kapolsek, dan Babinsa, serta ratusan pegiat pelindung dan pelestari budaya dari berbagai daerah. Kehadiran warga sekitar juga menambah kemeriahan dan keakraban acara tersebut. Sabtu (5/7/25)
Dalam sambutan, Ki Soleh menjelaskan bahwa bulan Suro memiliki sejarah dan makna yang sangat penting dalam budaya Jawa. Bulan Suro diyakini sebagai bulan yang suci dan penuh dengan makna spiritual, serta memiliki kaitan yang erat dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam budaya Jawa.
“Bulan Suro memiliki kaitan yang erat dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam budaya Jawa, seperti nilai-nilai tentang kesederhanaan, keikhlasan, dan kesadaran diri,” tutur Ki Soleh.
Pagelaran wayang kulit ini bertema “Sirnaning Manakala Ambyar Dadi Banyu, Pawelinge Gusti Tindakake Angger Ingsun Mados Kaweruh Budi Dawuh Jagad Sayekti Nyawiji”, yang memiliki makna tentang pentingnya memahami dan menerima kehendak Tuhan, serta kesadaran akan keterhubungan antara manusia dengan alam semesta.

“Tema ini mengandung pesan tentang pentingnya memahami dan menerima kehendak Tuhan, serta kesadaran akan keterhubungan antara manusia dengan alam semesta. Dalam konteks pagelaran wayang kulit, tema ini dapat menjadi refleksi tentang kehidupan dan kematian, serta perjalanan spiritual manusia,” papar Ki Susiono.
“Pagelaran wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan budaya Jawa, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami dan menghargai kehidupan,” imbuhnya.
Ki Ayik Suhaya menekankan pentingnya melestarikan budaya leluhur, terutama di era modern ini di mana wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Pelestarian budaya tradisional sangat penting untuk menjaga identitas dan kearifan lokal.
“Dengan kita menguri-uri budaya leluhur, masyarakat dapat memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya,” ucapnya.
Ia juga berharap bahwa upaya pelestarian budaya ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya.
Selanjutnya berebut buah dan sayuran, ini merupakan tradisi yang penuh makna dan kebersamaan, menunjukkan rasa syukur dan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah. Kemudian, mereka melakukan prosesi potong tumpeng. Pagelaran wayang kulit yang menyusul kemudian menambah semarak suasana dengan pertunjukan budaya yang sarat nilai dan hiburan.
Penulis : Indri
Editor : Saichu







