Era Baru KUHP Nasional: Dwi Indrotito Tekankan Edukasi Akar Rumput Agar Rakyat Tak Jadi “Martir” Ketidaktahuan Hukum

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 06:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KRA Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., praktisi hukum sekaligus Presiden Direktur Kantor Hukum Yustisia Indonesia (KHYI) Malang (Bil Realita Publik)

i

KRA Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., praktisi hukum sekaligus Presiden Direktur Kantor Hukum Yustisia Indonesia (KHYI) Malang (Bil Realita Publik)

MALANG realitapublik.id — Per 2 Januari 2026, Indonesia resmi meninggalkan jubah hukum kolonial Wetboek van Strafrecht (WvS) dan beralih sepenuhnya ke Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional yang baru. Namun, transisi besar ini membawa peringatan keras dari praktisi hukum Malang Raya: Tanpa literasi, masyarakat rentan terjebak dalam ketidakpastian hukum.

 

KRA Dwi Indrotito Cahyono, S.H., M.M., praktisi hukum sekaligus Presiden Direktur Kantor Hukum Yustisia Indonesia (KHYI) Malang, menegaskan bahwa pemberlakuan KUHP baru bukan sekadar pergantian teks, melainkan pergeseran paradigma hukum yang radikal.

 

1. Ancaman “Kriminalisasi Massal” Akibat Minim Literasi

Dwi Indrotito menyoroti adanya “jurang informasi” antara pembuat kebijakan dan rakyat kecil. Dalam hukum berlaku asas Fiksi Hukum, di mana setiap orang dianggap tahu undang-undang begitu aturan tersebut diundangkan.

Baca Juga :  Konflik Anggota DPRD Malang dan Pak Dur Berakhir Damai, Kasus Tetap Lanjut Berproses

“Tanpa sosialisasi yang menyentuh akar rumput, kita berisiko menciptakan gelombang ‘kriminalisasi massal’. Warga bisa saja terjerat pidana bukan karena niat jahat, melainkan karena tidak tahu bahwa aturan mainnya telah berubah,” tegas Indrotito.

 

2. Perubahan Paradigma: Dari Balas Dendam ke Keadilan Korektif

KUHP baru membawa sejumlah revisi mendasar yang dinilai sebagai “pedang bermata dua” jika tidak dipahami secara utuh:

Pengetatan Delik Korupsi: Sanksi bagi koruptor diperketat sebagai efek jera, namun pelaksanaannya memerlukan pengawasan ketat agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik di daerah.

Baca Juga :  Bikin Haru! Warga Situbondo Ini Kaget Dapat Hadiah Umrah Gratis dari Kapolri

Pidana Alternatif (Kerja Sosial): Berbeda dengan hukum lama yang bersifat membalas (retributif), KUHP baru memungkinkan penyelesaian di luar penjara untuk tindak pidana ringan. Terpidana dengan hukuman singkat dapat diminta mengabdi pada masyarakat alih-alih memperparah kondisi penjara yang overcapacity.

 

3. Kritik Sosialisasi: “Jangan Hanya di Hotel Mewah”

Indrotito memberikan catatan kritis kepada Pemerintah Daerah di Malang Raya. Ia menilai pola sosialisasi sejauh ini masih terjebak pada format seremonial yang tidak menyentuh sasaran utama.

Peran Kepala Desa: Dwi Indrotito mendesak agar Kepala Desa dijadikan ujung tombak sosialisasi. Sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan warga, mereka harus menjadi “kamus hukum berjalan” yang mampu menjelaskan pasal rumit dengan bahasa sederhana.

Baca Juga :  Kualitas Udara PALI Masih Kritis, Kebijakan Belajar dari Rumah Resmi Diperpanjang

Risiko Sosial: Minimnya literasi hukum dianggap sebagai pintu masuk bagi meningkatnya angka kriminalitas serta sengketa lahan yang kerap terjadi di wilayah Kabupaten Malang.

 

Kesimpulan: Hukum Harus Memanusiakan

Pesan utama dari Dwi Indrotito Cahyono sangat jelas: Keadilan tidak bisa tegak di atas masyarakat yang buta akan hak dan kewajibannya. Efektivitas KUHP Nasional sangat bergantung pada sejauh mana negara mampu memahamkan rakyatnya.

“Pendidikan hukum yang berkelanjutan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban mutlak pemerintah untuk memastikan perubahan besar di tahun 2026 ini membawa kemajuan, bukan kekacauan hukum,” pungkasnya.

Penulis : Bil

Berita Terkait

Menghadapi Musim Hujan: Mengelola Trauma Banjir Lewat Kesiapsiagaan Mental dan Fisik
Kodam XVIII/Kasuari Berduka, Prajurit Brigif 26/GP Pratu Andi Syarif Bugis Meninggal Dunia
Dugaan Pungli Berkedok Komite, MTsN Kota Pasuruan Bakal Dilaporkan MASAKO ke Kanwil Kemenag Jatim
Papan Rekening Komite MTsN Pasuruan Ditutupi, Sinyal Kelola Dana Tak Sehat?
Dituding Ada Pungli Komite, Papan Rekening di Resepsionis MTsN Kota Pasuruan Mendadak Diamankan Saat Wartawan Datang
Dampak Karhutla Sumsel: Udara PALI dan Palembang Masih Berbahaya
Cederai Moralitas Pendidikan, AMCD Kecam Keras Kasus Asusila di MTsN Kota Pasuruan
Bupati Situbondo Masuk 22 Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 Versi FJN
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:11 WIB

Menghadapi Musim Hujan: Mengelola Trauma Banjir Lewat Kesiapsiagaan Mental dan Fisik

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:18 WIB

Kodam XVIII/Kasuari Berduka, Prajurit Brigif 26/GP Pratu Andi Syarif Bugis Meninggal Dunia

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Dugaan Pungli Berkedok Komite, MTsN Kota Pasuruan Bakal Dilaporkan MASAKO ke Kanwil Kemenag Jatim

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Dituding Ada Pungli Komite, Papan Rekening di Resepsionis MTsN Kota Pasuruan Mendadak Diamankan Saat Wartawan Datang

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Dampak Karhutla Sumsel: Udara PALI dan Palembang Masih Berbahaya

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Cederai Moralitas Pendidikan, AMCD Kecam Keras Kasus Asusila di MTsN Kota Pasuruan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Bupati Situbondo Masuk 22 Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2026 Versi FJN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Label Infus Muat Nama Pasien Lain, Keluarga Soroti Prosedur Keselamatan di RSUD Kraton

Berita Terbaru