SITUBONDO, realitapublik.id – Proses evakuasi dua jenazah korban banjir bandang di Kecamatan Jatibanteng diwarnai momen memprihatinkan. Lambatnya respons layanan ambulans RSUD Besuki mengakibatkan jasad korban dievakuasi dengan menggunakan mobil operasional instansi lain karena terlalu lama menunggu.
Kejadian ini menuai sorotan tajam dari warga dan aktivis setempat. Sutomo, SH., tokoh masyarakat asal Desa Besuki, menyayangkan buruknya koordinasi dan pelayanan rumah sakit pelat merah tersebut dalam situasi darurat.
Dua Kali Terjadi dalam Sepekan
Peristiwa pertama terjadi pada Selasa sore (10/3/2026) saat penemuan jenazah Tohari (44), warga Dusun Krajan, Desa Patemon. Setelah jasad ditemukan Tim SAR gabungan di pinggiran Kali Basian, Desa Bloro, petugas sempat menunggu kehadiran ambulans RSUD Besuki hingga dua jam.
“Karena ambulans yang ditunggu tak kunjung tiba, akhirnya jenazah dievakuasi menggunakan mobil operasional Basarnas agar tidak tertahan terlalu lama di lokasi,” ujar Sutomo.
Ironisnya, kejadian serupa terulang pada Kamis (12/3/2026) saat evakuasi korban kedua, Jaelani (43), warga Desa Sumberanyar. Jasad yang ditemukan di pinggir Kali Basian di belakang SMKN Burhanul Abror itu selama lebih dari satu jam menunggu jemputan medis. Akhirnya, jenazah terpaksa dibawa ke RSUD Besuki menggunakan mobil Rescue milik Tagana (Dinas Sosial).
Desakan Evaluasi Manajemen
Sutomo menilai insiden berulang ini mencerminkan buruknya manajemen pelayanan di RSUD Besuki. Menurutnya, dalam kondisi bencana, respons cepat rumah sakit seharusnya menjadi prioritas utama.
“Ini menunjukkan lemahnya respons dan pelayanan. Manajemen RSUD Besuki harus dievaluasi total agar kejadian memalukan seperti ini tidak terulang di masa depan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Besuki, dr Imam Haryono mengatakan, terkait mobil ambulan RSUD Besuki dalam proses evakuasi, tolong pastikan dulu siapa dan jam berapa yang menghubungi pihak RSUD Besuki.
“Apakah salah jika mobil lain yang membawa jenazah tersebut, ini kan ada tahapan dan SOP nya,” kata dokter imam menambahkan.
Ia menyebutkan bahwa RUSD Besuki hanya memiliki 1 (satu) ambulan jenazah. “Sebelumnya ada dua mobil ambulan untuk jenazah, tapi satu mobil kondisinya sudah rusak sehingga dikembalikan ke bagian aset. Jadi saat ini ada satu mobil ambulan untuk jenazah. Mobil ambulan untuk membawa jenazah itu tidak boleh untuk membawa pasien,” pungkasnya.
Untuk diketahui, bahwa pada Sabtu, 7 Maret 2026, banjir bandang melanda Situbondo.
Dalam peristiwa bencana tersebut mengakibatkan dua orang warga dilaporkan hilang terseret arus. Dua korban hilang, atas nama Tohari (44) warga Desa Patemon dan Jaelani (43), warga Desa Sumberanyar. Keduannya warga Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo.
Adapun wilayah yang paling parah terdampak meliputi Kecamatan Jatibanteng dan Besuki. (*)
Penulis : Abdul Hakiim






