SEMARANG, Realitapublik.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran berdampak langsung pada stabilitas energi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh otoritas Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menembus 100 USD per barel, sebuah angka yang memaksa negara-negara di Asia Tenggara melakukan efisiensi besar-besaran.
Menanggapi instruksi pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri, Pemerintah Kota Semarang kini tengah mematangkan rencana pemberlakuan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan bahwa kebijakan ini bukan sekadar perubahan pola kerja, melainkan instrumen vital untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional. Di saat negara tetangga seperti Singapura dan Thailand telah menaikkan harga BBM domestik, Indonesia memilih jalur efisiensi energi sebagai opsi utama.
“Kami menyesuaikan. Yang penting dari kebijakan ini ialah penggunaan anggaran untuk BBM akan dipantau agar masing-masing dinas melaporkan perkiraan penghematannya,” ujar Agustina, Rabu (01/04/2026).
Hasil penghematan dari kebijakan WFH, pembatasan mobil dinas, hingga efisiensi perjalanan dinas ini nantinya akan menjadi dasar dalam penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mendatang.
Meski sebagian besar ASN akan menjalankan tugas dari rumah pada hari Jumat, Wali Kota menjamin bahwa roda pemerintahan tidak akan berhenti. Sektor-sektor pelayanan vital yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tetap beroperasi secara tatap muka (WFO).
Layanan Tetap Beroperasi: Rumah Sakit/Kesehatan, Perizinan, dan Administrasi Kependudukan.
Mekanisme Pengawasan: Pemkot tengah merumuskan sistem pengawasan khusus mengingat jumlah pegawai yang besar guna memastikan kinerja tetap terjaga meskipun bekerja secara daring.
Selain WFH, Wali Kota Agustina juga menelurkan terobosan dengan mendorong ASN menggunakan transportasi umum, seperti Trans Semarang, minimal satu kali dalam sepekan. Langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan usulan bersepeda atau jogging ke kantor, mengingat pertimbangan jarak tempat tinggal pegawai.
“Penggunaan transportasi umum oleh ASN adalah dukungan nyata bagi efisiensi energi nasional sekaligus solusi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Kota Semarang,” tambahnya.
Langkah efisiensi yang digaungkan Pemkot Semarang ini sejalan dengan kebijakan pusat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan harga minyak dunia yang melambung akibat konflik global, penghematan energi di level daerah menjadi kunci agar pemerintah pusat tidak perlu mengambil opsi pahit berupa kenaikan harga BBM di tingkat konsumen.
Penulis : Fery Eka spt







