Buntut Kasus UHC, Bupati Malang Diduga Belum Jalankan Putusan MA Soal Pengembalian Jabatan Eks Kadinkes

- Jurnalis

Kamis, 11 September 2025 - 18:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG realitapublik.id — Kuasa hukum drg. Wiyanto Wijoyo, Moch. Arifin, mendesak Bupati Malang, H. Sanusi, segera melaksanakan putusan Mahkamah Agung (MA) terkait kasus kliennya. Putusan tersebut memerintahkan agar Wiyanto dikembalikan ke jabatan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang.

Menurut Arifin, putusan MA ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Salinan putusan kasasi juga sudah disampaikan ke Bupati Malang oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya.

“Secara hukum, bupati harus melaksanakan putusan itu dengan mengembalikan kedudukan drg. Wiyanto Wijoyo sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang,” ujar Arifin saat dikonfirmasi media.

Dalam salinan putusan MA, tertera beberapa poin penting, di antaranya:

Mewajibkan Bupati Malang mencabut Surat Keputusan (SK) Nomor 800.1.6.3/148/35.07.405/2024 tertanggal 27 Maret 2024, yang membebaskan drg. Wiyanto dari jabatannya menjadi staf pelaksana selama 12 bulan.

Baca Juga :  PORPROV Jateng 2026: Tim Karate Pekalongan Targetkan Borong Medali

Mewajibkan Bupati Malang menerbitkan SK baru untuk merehabilitasi dan mengangkat kembali drg. Wiyanto Wijoyo sebagai Kepala Dinas Kesehatan atau jabatan lain yang setara.

Namun, hingga kini, pengembalian jabatan Wiyanto tak kunjung terealisasi. Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang beralasan masih menunggu rekomendasi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI.

Koordinator Tim Penilai Kinerja (TPK) Pemkab Malang, Tomie Herawanto, yang juga menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Malang, menyatakan bahwa Pemkab belum bisa menindaklanjuti putusan tersebut.

“Saat ini kami masih menunggu rekomendasi dari BKN. Semoga bisa segera diterbitkan, sehingga Pemkab Malang dapat menindaklanjuti putusan MA,” kata Tomie.

Baca Juga :  Jaga Nama Baik HSB Palembang, Ketum Tegaskan Satu Komando

Pencopotan drg. Wiyanto Wijoyo bermula dari masalah program Universal Health Coverage (UHC). Pada Februari 2023, ada 25 persen penduduk yang belum terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan. Untuk mencapai target UHC, 25 persen penduduk tersebut harus didaftarkan BPJS melalui skema Penerima Bantuan Iuran Daerah (PBID).

Karena data ini masuk pada Februari 2023, anggarannya belum terencana dalam APBD 2023 dan baru akan dianggarkan pada Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Akibatnya, terjadi pembengkakan anggaran dan memicu utang ke BPJS Kesehatan.

Layanan UHC itu hanya berlaku tiga bulan, namun dalam kurun waktu tersebut, utang Pemkab Malang ke BPJS mencapai Rp87 miliar. Padahal, anggaran yang tersedia untuk program UHC setahun penuh hanya Rp80 miliar.

Baca Juga :  Tak Berizin dan Ganggu Jalan, Satpol PP Indramayu Bakal Tindak Tegas Videotron PT Netlink World Indonesia

Meskipun demikian, pelaksanaan UHC Kabupaten Malang mendapat apresiasi dan penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.

Imbas dari tunggakan tersebut, drg. Wiyanto Wijoyo mendapat hukuman disiplin berat berupa penurunan jabatan menjadi staf di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Malang sejak Mei 2024. Hukuman ini berlaku selama 12 bulan.

Merasa pembengkakan utang bukan murni kesalahannya, Wiyanto mengajukan gugatan ke PTUN dan berhasil memenangkannya. Setelah menang, Wiyanto menyatakan apresiasinya kepada bupati.

“Saya tetap loyal kepada Bupati (H. Sanusi) dan siap mengabdi untuk masyarakat Kabupaten Malang,” ucap drg. Wiyanto.

Penulis : Bil

Editor : Red

Berita Terkait

Layanan PBG Dinilai Mangkrak, Aliansi Poros Tengah Kota Pasuruan Agendakan Aksi Unjuk Rasa
Bawaslu Situbondo: Pilihan di TPS Cuma Sekian Menit, Tapi Tentukan Nasib Bangsa 5 Tahun
Polres Bogor Tangkap Pelaku Tawuran yang Tewaskan Remaja 16 Tahun di Sukaraja
Sengketa Tanah KDMP Rejoso Lor Masuki Agenda Gugatan, Penggugat Soroti Ketidakhadiran Jaksa
Titipan Tahanan Kasus Korupsi Dana KONI Masuk Lapas Kelas IIB Pasuruan, Kejaksaan Pastikan Proses Hukum Berlanjut
Skandal Dana Hibah KONI Kota Pasuruan 2023–2025: Negara Rugi Ratusan Juta, Ketua Umum dan Bendahara Resmi Ditahan
Soal Isu Aliran Dana PJU, Ustadz Hamidi dan Oknum Perangkat Desa Selomukti Akhirnya Berdamai
Kapolres PALI: Semangat Sumpah Pemuda Harus Tercermin dalam Pelayanan Polri
Berita ini 73 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:50 WIB

Layanan PBG Dinilai Mangkrak, Aliansi Poros Tengah Kota Pasuruan Agendakan Aksi Unjuk Rasa

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:15 WIB

Bawaslu Situbondo: Pilihan di TPS Cuma Sekian Menit, Tapi Tentukan Nasib Bangsa 5 Tahun

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:12 WIB

Polres Bogor Tangkap Pelaku Tawuran yang Tewaskan Remaja 16 Tahun di Sukaraja

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36 WIB

Sengketa Tanah KDMP Rejoso Lor Masuki Agenda Gugatan, Penggugat Soroti Ketidakhadiran Jaksa

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:59 WIB

Titipan Tahanan Kasus Korupsi Dana KONI Masuk Lapas Kelas IIB Pasuruan, Kejaksaan Pastikan Proses Hukum Berlanjut

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Soal Isu Aliran Dana PJU, Ustadz Hamidi dan Oknum Perangkat Desa Selomukti Akhirnya Berdamai

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:29 WIB

Kapolres PALI: Semangat Sumpah Pemuda Harus Tercermin dalam Pelayanan Polri

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Dongkrak Target PAD Kabupaten Pasuruan, Aliansi PORTE Mendukung Penuh Upaya BAPENDA Menertibkan Pajak Tambang

Berita Terbaru