TULANG BAWANG BARAT, realitapublik.id — Pekerjaan pemeliharaan jalan di Ruas Panaragan Jaya, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), memicu keraguan serius dari masyarakat pengguna jalan. Proyek perbaikan yang dilaksanakan secara swakelola oleh Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) PUPR Provinsi Lampung ini dinilai hanya sekadar menutup tampak luar tanpa menyelesaikan akar kerusakan jalan yang sebenarnya.
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, metode kerja yang diterapkan terlihat sangat sederhana. Sejumlah pekerja tampak hanya menyiramkan aspal cair di atas permukaan jalan yang sudah retak, lapuk, dan bergelombang. Setelah itu, barulah campuran aspal panas (hotmix) ditaburkan dengan ketebalan yang tidak merata, bahkan sebagian titik terpantau hanya setebal tiga sentimeter.
Pengawas Lapangan proyek tersebut, Edi, menjelaskan bahwa metode penambalan tersebut sengaja dipilih karena menyesuaikan dengan kondisi kerusakan saat ini. Menurutnya, area jalan yang belum mengalami kerusakan parah atau belum berlubang besar tidak perlu digali secara menyeluruh.
“Cukup disiram aspal cair terlebih dahulu agar daya rekatnya kuat, kemudian ditutup dengan aspal panas setebal tiga sentimeter. Cara ini sudah cukup kuat untuk menahan beban kendaraan,” ujar Edi saat dikonfirmasi di lokasi pekerjaan, Rabu (01/07/2026).
Kendati demikian, penjelasan dari pihak pengawas proyek tidak serta-merta meredakan kekhawatiran warga dan pengguna jalan yang melintas. Pasalnya, permukaan jalan pasca-penambalan masih terasa bergelombang, menonjol, dan sisa-sisa retakan lama di bawah lapisan baru masih terlihat samar.
Slamet, salah seorang warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, mengungkapkan rasa pesimisnya terhadap ketahanan hasil perbaikan jalan tersebut. Ia menilai anggaran negara berpotensi terbuang percuma jika kualitas pengerjaannya tidak berumur panjang.
“Jalan ini merupakan jalur utama yang saban hari dilewati truk pengangkut hasil bumi dan kendaraan bertonase besar. Kalau polanya hanya ditutup tipis seperti ini, saya yakin tidak sampai tiga bulan sudah berlubang lagi. Uang negara habis percuma dan kami sebagai pengguna jalan yang harus menanggung risiko kecelakaan,” kata Slamet.
Merespons kondisi tersebut, masyarakat berharap pihak pimpinan dinas terkait di tingkat provinsi segera turun ke lapangan untuk meninjau langsung jalannya proyek pemeliharaan ini. Warga mendesak agar metode pengerjaan segera dievaluasi dan diperbaiki dengan konstruksi yang lebih mendasar demi memastikan jalan dapat bertahan lama, rata, serta aman dilalui.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung terkait keluhan dan kekhawatiran yang disampaikan oleh warga setempat. (*)
Penulis : Rody Sandra







