Pahargyan 10 Sura 1959 Jawa, Paguyuban KBTTPK Cabang Pasuruan Sajikan Pagelaran Wayang Kulit dengan Karawitan Sekarsari

- Jurnalis

Minggu, 6 Juli 2025 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA PASURUAN realitapublik.id – Paguyuban Kaweruh Batin Tulis Tanpo Papan Kasunyatan (KBTTPK) Cabang Pasuruan menyelenggarakan acara Pahargyan 10 Sura 1959 Jawa dengan pagelaran wayang kulit yang sangat spesial.

 

Acara ini menampilkan dua dalang terampil, Ki Sudarto dan Ki Trihandoko, yang dibawakan dengan diiringi oleh karawitan Sekarsari di padepokan Ki Soleh, Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

 

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Ki Ayik Suhaya, Lurah Nyi Lailul, Kapolsek, dan Babinsa, serta ratusan pegiat pelindung dan pelestari budaya dari berbagai daerah. Kehadiran warga sekitar juga menambah kemeriahan dan keakraban acara tersebut. Sabtu (5/7/25)

 

Dalam sambutan, Ki Soleh menjelaskan bahwa bulan Suro memiliki sejarah dan makna yang sangat penting dalam budaya Jawa. Bulan Suro diyakini sebagai bulan yang suci dan penuh dengan makna spiritual, serta memiliki kaitan yang erat dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam budaya Jawa.

Baca Juga :  Gudang Solar Ilegal di Krapyak Lor Digerebek, Polisi Sita Hampir 10 Ton BBM Subsidi

 

“Bulan Suro memiliki kaitan yang erat dengan nilai-nilai spiritual dan filosofis dalam budaya Jawa, seperti nilai-nilai tentang kesederhanaan, keikhlasan, dan kesadaran diri,” tutur Ki Soleh.

 

Pagelaran wayang kulit ini bertema “Sirnaning Manakala Ambyar Dadi Banyu, Pawelinge Gusti Tindakake Angger Ingsun Mados Kaweruh Budi Dawuh Jagad Sayekti Nyawiji”, yang memiliki makna tentang pentingnya memahami dan menerima kehendak Tuhan, serta kesadaran akan keterhubungan antara manusia dengan alam semesta.

Baca Juga :  Diwarnai Drama Pengejaran, Aksi Pencurian Minyak Mentah Pertamina di PALI Berhasil Digagalkan
Suasana meriah dalam menyaksikan pagelaran wayang kulit di kediaman Ki Soleh (foto: Saichu realitapublik.id)

“Tema ini mengandung pesan tentang pentingnya memahami dan menerima kehendak Tuhan, serta kesadaran akan keterhubungan antara manusia dengan alam semesta. Dalam konteks pagelaran wayang kulit, tema ini dapat menjadi refleksi tentang kehidupan dan kematian, serta perjalanan spiritual manusia,” papar Ki Susiono.

 

“Pagelaran wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan budaya Jawa, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya memahami dan menghargai kehidupan,” imbuhnya.

 

Ki Ayik Suhaya menekankan pentingnya melestarikan budaya leluhur, terutama di era modern ini di mana wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Pelestarian budaya tradisional sangat penting untuk menjaga identitas dan kearifan lokal.

Baca Juga :  Korupsi Dana Bencana di BNPB, Netizen Geram: Ini Ironi dan Benar-benar Sakit!

 

“Dengan kita menguri-uri budaya leluhur, masyarakat dapat memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya,” ucapnya.

 

Ia juga berharap bahwa upaya pelestarian budaya ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya.

 

Selanjutnya berebut buah dan sayuran, ini merupakan tradisi yang penuh makna dan kebersamaan, menunjukkan rasa syukur dan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah. Kemudian, mereka melakukan prosesi potong tumpeng. Pagelaran wayang kulit yang menyusul kemudian menambah semarak suasana dengan pertunjukan budaya yang sarat nilai dan hiburan.

Penulis : Indri

Editor : Saichu

Berita Terkait

Mengawal Ekonomi Berkeadilan, Aprohan Jadi Pemateri Seminar Nasional Gema Jurnalistik FEB Unila
Antisipasi Pemalsuan Status Perkawinan, Ribuan Blangko Nikah Dimusnahkan di Bandar Lampung
Gudang Solar Ilegal di Krapyak Lor Digerebek, Polisi Sita Hampir 10 Ton BBM Subsidi
Dugaan Penyadapan Pejabat Tinggi Negara: Polri Tetapkan 3 Tersangka
Menuntut Kepastian Hukum Satu Dekade, Sidang Praperadilan Kasus Mangkrak Lahan Bukir di PN Pasuruan Masuki Agenda Pembuktian
Di Balik Korupsi 10 Proyek PALI: KPAK Desak Jaksa Bongkar Aktor Intelektual
Mengabdi untuk Pendidikan dan Bangsa, Ini Rekam Jejak Panjang Prof. Warsito
Bentengi Diri dari Korupsi, Pejabat Struktural Kecamatan Suboh Ikuti Program PADI KPK
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 23:52 WIB

Mengawal Ekonomi Berkeadilan, Aprohan Jadi Pemateri Seminar Nasional Gema Jurnalistik FEB Unila

Rabu, 4 November 2026 - 14:58 WIB

Antisipasi Pemalsuan Status Perkawinan, Ribuan Blangko Nikah Dimusnahkan di Bandar Lampung

Rabu, 4 November 2026 - 10:56 WIB

Gudang Solar Ilegal di Krapyak Lor Digerebek, Polisi Sita Hampir 10 Ton BBM Subsidi

Selasa, 3 November 2026 - 23:37 WIB

Dugaan Penyadapan Pejabat Tinggi Negara: Polri Tetapkan 3 Tersangka

Selasa, 3 November 2026 - 17:14 WIB

Menuntut Kepastian Hukum Satu Dekade, Sidang Praperadilan Kasus Mangkrak Lahan Bukir di PN Pasuruan Masuki Agenda Pembuktian

Selasa, 3 November 2026 - 13:36 WIB

Di Balik Korupsi 10 Proyek PALI: KPAK Desak Jaksa Bongkar Aktor Intelektual

Senin, 2 November 2026 - 14:22 WIB

Mengabdi untuk Pendidikan dan Bangsa, Ini Rekam Jejak Panjang Prof. Warsito

Senin, 2 November 2026 - 12:33 WIB

Bentengi Diri dari Korupsi, Pejabat Struktural Kecamatan Suboh Ikuti Program PADI KPK

Berita Terbaru