REALITAPUBLIK.ID — Pengrajin rajut banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Inha Sari, di Tiyuh (Desa) Karta Sari, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung.
Kepada realitapublik.id, Jumat, 17 Oktober 2025, Inha Sari mengatakan awalnya belajar merajut semenjak belum menikah pada saat masih berumur belasan tahun.
“Semenjak belum nikah, saya sering melihat ibu dan nenek merajut membuat taplak meja, dan lainnya,” kata wanita yang akrab dengan nama panggilan Inha.
Setelah menikah, kerajinan rajut benangnya dijadikan mata pencaharian tambahan.
“Mulai menekuni rajut benang setelah menikah tahun 2020. Tapi mulai fokus merintis UMKM kerajinan rajut ini pada awal tahun 2025,” ucap Inha, istri dari Rody Sandra ini.
Dalam mengelola kerajinan rajut benang, Inha Sari mengembangkan usahanya bersama dengan keluarganya. “Modal dalam mengembangkan usaha ini menggunakan modal sendiri,” kata Inha.
Hasil rajut benang milik Inha memiliki rajutan yang rapi, motif yang bervariasi serta kualitas bahan yang bagus dan kuat, dijual dari satu orang ke orang lainnya serta promosi yang dilakukan dengan cara informasi dari mulut ke mulut dan memposting foto produknya di sejumlah media dan jejaring sosial.
“Alhamdulillah, hasil produksi rajutan kami sudah banyak yang tertarik,” ujar Inha.
Inha dan keluarganya dalam usaha kerajinan rajut yang digelutinya fokus membuat produk fungsional seperti pembungkus bantal korsi, tempat wadah tisu, tempat toples, taplak meja, taplak gelas, dan lainnya.
“Jika ada pesanan yang jumlahnya tidak banyak, saya buat sendiri. Tapi jika banyak permintaan konsumen, kami memberdayakan beberapa pengrajin rajut yang ada di sekitar rumah,” ucapnya.
Untuk penjualan produk jenis barang fungsional dengan sistem lusinan, dan dalam hal warna benang rajut disesuaikan dengan permintaan konsumen.
Kemudian, setiap produk harganya variatif, mulai dari 500 hingga 700 rupiah per lusin. “Harga tergantung jenis dan jumlah barang yang dipesan konsumen,” kata Yeni, kerabat dekat yang turut membantu usaha kerajinan rajut benang milik Inha Sari.
Jika pemesan atau konsumennya tinggal atau berdomisili di wilayah sekitar, barang pesanan yang sudah jadi bisa langsung diantar ke rumah pemesan. “Namun jika pemesan atau konsumennya dari luar daerah, kita kirim lewat jasa biro paket sesuai alamat pemesan,” ujar Yeni.
Seiring berjalannya waktu, usaha kerajinan rajut Inha mulai berkembang. Ia bersama keluarganya dalam mengembangkan usahanya dilakukan di dua tempat, yakni di rumahnya yang berada di Tiyuh (Desa) Karta Sari, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) dan Desa Bandar Abung, Kecamatan Abung Surakarta, Kabupaten Lampung Utara (Lampura).
“Rencananya kami akan memproduksi kerajinan rajut lainya, seperti sweater, syal, tas, dan lainnya,” kata Inha.
Inha mengaku untuk usahanya agar lebih berkembang lebih pesat lagi, membutuhkan tambahan modal yang lebih besar. Namun, Inha bersama suaminya saat ini masih belum ada rencana untuk pinjam modal usaha melalui bank.
“Sementara ini belum ada keinginan pinjam modal lewat bank, tapi keinginan UMKM kerajinan rajut benang kami ini kedepannya dapat terus meningkat,” ucap Inha penuh harap.
Saat ini, usaha yang baru dirintisnya tersebut memperoleh pendapatan bersih 1-2 juta perbulan.
Rencananya, ia akan mengurus perizinan usahanya. “Semoga dalam tahun ini kita sudah bisa mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB),” ucapnya.
Dampak keberadaan rajut benang ini bukan hanya dirasakan oleh Inha Sari sekeluarga, tetapi juga dirasakan masyarakat sekitar yang telah menjadi pengerajin dan bekerja di tempat usaha Inha Sari.(*)
Penulis : Abdul Hakim






