PEKALONGAN, Realitapublik.id — Jeritan hati ratusan warga di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, akhirnya pecah menjadi aksi masa. Hampir satu bulan terendam banjir tanpa kepastian, warga dari tiga desa terdampak parah, Desa Mulyorejo, Karangjompo, dan Tegaldowo, menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Jalur Pantura Pekalongan, Senin (09/02/2026).
Estimasi sekitar 600 orang melakukan longmarch dari Jembatan Sabar Menanti menuju jalur Pantura hingga memadati Kantor Kecamatan Tirto. Mereka membawa baliho berisi tuntutan keras agar pemerintah daerah melakukan penanganan banjir secara maksimal, bukan sekadar seremonial.
Banjir yang menggenangi wilayah tersebut dilaporkan mencapai ketinggian satu meter di akses jalan utama, sementara di dalam rumah warga, air merendam hingga setinggi paha orang dewasa.
“Banjir sudah hampir tiga minggu tapi penanganannya belum maksimal. Kami warga buruh pabrik tidak bisa berangkat kerja karena akses jalan terputus. Mau keluar rumah saja sulit, aktivitas ekonomi kami lumpuh total,” keluh Rina, salah satu peserta aksi dengan nada kecewa.
Audiensi yang digelar di aula Kantor Kecamatan Tirto sempat memanas. Perwakilan warga menyatakan mosi tidak percaya setelah mengetahui fakta bahwa status Tanggap Darurat sebenarnya telah diberlakukan sejak 27 Januari lalu, namun warga merasa tidak ada dampak nyata di lapangan.
“Aneh sekali, kami warga terdampak malah tidak tahu soal status tanggap darurat itu. Jika memang sudah berlaku, kenapa penanganan di lapangan masih sangat lambat dan tidak efektif?” tegas Arif, koordinator aksi.
Setelah melalui perdebatan alot, Asisten Perekonomian Setda Kabupaten Pekalongan, Anis Rosidi, bersama Kepala BPBD dan Dinas PU, akhirnya menyepakati delapan tuntutan warga yang akan segera ditindaklanjuti:
Perbaikan tanggul yang bocor/jebol.
Penambahan dua unit pompa mobile.
Jaminan ketersediaan solar untuk operasional pompa 24 jam.
Pembangunan rumah pompa permanen di Karangjompo.
Perbaikan pintu air di Desa Mulyorejo.
Normalisasi drainase di sepanjang Jalan Sepacar.
Perbaikan akses jalan Mulyorejo–Tegaldowo.
Optimalisasi penyedotan air di pemukiman.
Anis Rosidi mengakui adanya miskomunikasi terkait sosialisasi status darurat. “Kami memahami psikologis warga. Bayangkan tiga minggu terendam, ekonomi dan pendidikan pasti terganggu. Pemerintah tidak tinggal diam, semua tuntutan telah kami terima dan akan segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
Warga menegaskan akan terus mengawal janji pemerintah tersebut. Mereka berharap pertemuan ini bukan sekadar meredam aksi, melainkan menjadi titik balik pulihnya kehidupan di Kecamatan Tirto agar bisa kembali normal.
Penulis: Feri Eka S.







