NGANJUK, Realitapublik.id — Pemerintah Kabupaten Nganjuk terus memperkokoh sinergi dengan institusi keagamaan melalui agenda Safari Ramadan. Kali ini, kegiatan dipusatkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, menjadi momentum penting untuk mendekatkan layanan pemerintah kepada para santri dan masyarakat sekitar, Selasa (17/03/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Nganjuk beserta jajaran Pejabat Utama (PJU) daerah, sebagai bentuk komitmen hadirnya negara di tengah masyarakat selama bulan suci.
Dalam kunjungannya, Pemkab Nganjuk tidak hanya membawa pesan religi, tetapi juga menghadirkan unit pelayanan langsung seperti pemeriksaan kesehatan dan administrasi kependudukan (Dukcapil). Hal ini menarik perhatian karena Kabupaten Nganjuk secara resmi telah mencapai status Universal Health Coverage (UHC).
“Di Nganjuk saat ini sudah UHC, artinya seluruh masyarakat sudah terdaftar dalam jaminan kesehatan BPJS. Namun, kami tetap menghadirkan layanan jemput bola di lokasi safari agar masyarakat lebih mudah mengurus KTP, KK, maupun mengecek kesehatan secara langsung,” jelas perwakilan Pemkab Nganjuk.
Pengasuh Ponpes Al Ubaidah, Habib Ubaidillah Al Hasany, menyatakan rasa bangga dan apresiasinya atas kehadiran “Orang Nomor Satu dan Dua” di Nganjuk. Menurutnya, pesantren merupakan institusi yang harus selaras dengan kebijakan pemerintah guna memberikan manfaat maksimal bagi umat.
“Kami menyadari bahwa pesantren tidak bisa berdiri sendiri. Kekuatan kami akan terasa kecil jika tidak didukung oleh komponen lain, terutama pemerintah daerah. Kehadiran Bapak Bupati dan Wakil Bupati adalah suntikan semangat bagi kami,” tutur Habib Ubaidillah.
Beliau juga menekankan bahwa Safari Ramadan ini efektif menumbuhkan rasa kebangsaan di kalangan santri. Melalui interaksi langsung dengan jajaran pejabat, santri semakin memahami bahwa peran mereka sangat vital dalam mendukung kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain aspek pelayanan, kegiatan ini diisi dengan dialog hangat yang mempererat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Harapannya, sinergi ini mampu mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kesadaran bernegara yang tinggi.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama, menciptakan suasana harmonis antara ulama, umara (pemerintah), dan masyarakat dalam satu wadah kebersamaan Ramadan.
Penulis : Fe






