SEMARANG, realitapublik.id — Upaya nyata dalam mendorong pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) terus digalakkan. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang resmi melantik Unit Palang Merah Remaja (PMR) di Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Swadaya Semarang, Kamis (08/05/2026).
Ketua Bidang Organisasi PMI Kota Semarang, Endang Puji Astuti, mengungkapkan bahwa Unit PMR di SLB BC Swadaya ini merupakan unit pertama yang dibentuk di lingkungan SLB swasta se-Kota Semarang. Langkah ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini tanpa memandang keterbatasan fisik maupun mental.
Pembentukan unit ini juga menjadi agenda penting dalam memperingati Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang 2026 yang mengusung tema “Humanity for Elderly and People with Disabilities” (Kemanusiaan untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas).
“Program PMR di SLB ternyata sangat dibutuhkan dan disambut antusias oleh para siswa. Meskipun terdapat tantangan dalam proses penyampaian materi, berkat kesabaran pelatih dan pendampingan guru, kendala tersebut berhasil diatasi dengan baik,” ujar Endang Puji Astuti.
Endang mengakui terdapat perbedaan signifikan dalam metode pelatihan antara sekolah umum dengan SLB. Proses transfer ilmu dilakukan secara lebih perlahan dan intensif agar materi benar-benar terserap oleh para siswa.
Jika di sekolah umum satu materi bisa tuntas dalam satu jam pelajaran, di SLB prosesnya bisa memakan waktu satu hingga dua hari. Materi pun difokuskan pada kemampuan dasar pertolongan pertama bagi diri sendiri dan keluarga.
“Yang paling penting adalah mereka paham dasarnya. Bagaimana cara memberikan pertolongan pertama jika terjadi sesuatu pada diri sendiri maupun anggota keluarga di rumah,” tambahnya.
Kepala SLB BC Swadaya, Riska Fitriyani Rahmansyah, menyambut baik terobosan ini. Saat ini, sekolah tersebut membina 139 siswa dengan hambatan pendengaran dan berpikir. Ia berharap, kehadiran PMR menjadi ruang bagi siswa untuk membuktikan bahwa mereka memiliki jiwa sosial yang sama besarnya dengan siswa di sekolah umum.
“Sekolah kami menjadi satu-satunya SLB swasta di Semarang yang memiliki PMR selain SLB Negeri. Kami berharap program ini dapat membantu menyetarakan posisi anak-anak berkebutuhan khusus serta meningkatkan rasa kemanusiaan mereka,” ungkap Riska.
Terobosan PMI Kota Semarang ini patut menjadi pilot project atau percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Inisiatif ini membuktikan bahwa semangat kemanusiaan bersifat universal dan harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Penulis : Fery Eka spt






