realitapublik.id – Kekuasaan di dunia sering kali menyilaukan mata melalui limpahan fasilitas, kemegahan jabatan, dan penghormatan. Namun, di balik semua kemewahan tersebut, terdapat tanggung jawab raksasa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa kelak di Padang Mahsyar.
Sebuah kisah keteladanan klasik menggambarkan betapa kontrasnya proses hisab (perhitungan amal) antara seorang pemimpin yang adil sekalipun dengan rakyatnya yang paling miskin.
Dalam berbagai riwayat dikisahkan bahwa saat seluruh makhluk dibangkitkan dari alam kubur, setiap individu akan berdiri mempertanggungjawabkan setiap detik masa hidupnya. Bagi seorang pemimpin, proses ini akan berjalan sangat detail dan panjang. Beberapa hal yang akan dibedah tanpa ada yang luput antara lain:
Setiap Kebijakan Publik: Apakah regulasi yang dikeluarkan berpihak pada kemaslahatan umat atau justru menyengsarakan.
Alokasi Dana Publik: Setiap rupiah uang rakyat yang dikelola akan diaudit secara transparan di hadapan-Nya.
Kesejahteraan Rakyat: Bahkan urusan perut rakyat kecil yang kelaparan akan dituntut pertanggungjawabannya langsung dari sang pemimpin.
Malaikat akan melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang begitu mendalam mengenai bagaimana amanah kekuasaan tersebut dijalankan semasa hidup di dunia.
Sebaliknya, bagi orang miskin yang tidak memiliki harta benda melimpah atau kekuasaan di dunia, proses pemeriksaan tersebut berlangsung sangat singkat.
Karena tidak ada aset kekayaan yang harus dipertanggungjawabkan, mengenai dari mana harta tersebut didapat dan ke mana dibelanjakan, mereka dapat melenggang lebih cepat menuju kebahagiaan abadi di surga tanpa hambatan birokrasi akhirat yang melelahkan.
Secara teologis, fenomena ini sejalan dengan peringatan keras yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW mengenai hakikat sebuah kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia yang dipimpinnya, tetapi bertanggung jawab langsung kepada Sang Pencipta.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis sahih: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang imam (penguasa) adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu detailnya pertanggungjawaban seorang penguasa, hingga Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA pernah berucap dengan tubuh yang gemetar: “Seandainya ada seekor keledai yang terperosok di kota Irak, niscaya aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?’”
Sementara itu, mengenai ringannya pemeriksaan bagi orang-orang miskin yang sabar, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa mereka akan memasuki surga jauh sebelum orang-orang kaya dan para penguasa selesai dihisab.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang fakir kaum muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya mereka dengan selisih setengah hari, yang mana setengah hari itu setara dengan lima ratus tahun (di dunia).” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Selisih waktu 500 tahun tersebut merujuk pada lamanya proses interogasi dan audit amal yang harus dijalani oleh mereka yang memiliki aset, harta, dan otoritas kekuasaan di dunia. Sementara bagi si miskin, malaikat hanya menanyakan sedikit hal karena memang tidak ada beban duniawi berat yang mereka pikul.
Di alam Padang Mahsyar kelak, semua atribut keduniawian, pangkat, serta jabatan akan dilepaskan. Esensi dari refleksi ini menjadi alarm keras bagi siapa saja yang tengah memegang amanah kekuasaan di era modern saat ini. Kesejahteraan rakyat bukan sekadar komoditas politik atau laporan statistik di atas kertas, melainkan setiap jengkal kebijakan akan menjadi penentu keselamatan di alam keabadian.
Amal kepemimpinan yang adil bisa menjadi jalan tertinggi menuju surga. Sebaliknya, kelalaian terhadap rakyat kecil akan menjadi penyesalan yang panjang, berat, dan melelahkan di hadapan para malaikat penjaga hisab.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Penulis : Redpel






