Jakarta, realitapublik.id – Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin depan, 20 Juli 2026.
Sebelumnya Pada perdagangan Jumat sore (17/7/2026) nilai tukar rupiah ditutup menguat 65 poin (0,36%) di level Rp 17.921/Dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.986/ Dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diperkirakan menguat di rentang Rp 17.870 – Rp 17.930 / Dolar AS,” kata Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi” dalam keterangannya tertulis pada Jumat (27/7/2026).
Lebih lanjut Ibrahim assuaibi juga memprediksi nilai tukar rupiah pada perdagangan sepekan ke depan bergerak di antara level Rp 17.750 – Rp 18.050/ Dolar AS.
Lebih lanjut lagi Ibrahim Assuaibi memaparkan, rupiah diprediksi berlanjut menguat meski pasar global masih dibayangi sentimen tentang konflik yang terus berlanjut antara AS dan Iran di Timur Tengah. Seperti diketahui, konflik tersebut telah mendorong harga minyak mentah tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran naiknya inflasi.
“Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target,”Kata Ibrahim Assuaibi”
Baru-baru ini, para pembuat kebijakan moneter AS telah berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat menekan prospek inflasi negara itu.
“Walaupun data inflasi konsumen dan produsen AS minggu ini menunjukkan penurunan tekanan harga yang mendasarinya, tetapi pasar sebagian besar mengabaikan data retrospektif tersebut di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi terbaru dapat membalikkan tren disinflasi,” Ujar Ibrahim Assuaibi”
Dari sisi internal, rupiah menguat setelah Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026, BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 berada di 12,97%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yakni 10,11%
Adapun Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) yang mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43% pada kuartal II/2026, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03%.
Meningkatnya kegiatan usaha tersebut didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Konstruksi, dan LU Pertambangan dan Penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya, serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sejalan dengan permintaan terjaga pada rangkaian periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan liburan sekolah pada triwulan II-2026.
Harapannya kedepan nilai tukar Mata uang Rupiah terhadap mata uang lainya terutama terhadap Dolar AS semakin menguat sehingga ekonomi Nasional stabil tentunya.
Dengan menguatnya Nilai tukar Mata uang Rupiah terutama terhadap Mata uang negeri Paman Sam Dolar AS maka ,secara otomatis akan terjadi Devaluasi jika hal tersebut terjadi maka ekonomi Nasional akan stabil tentunya.
Penulis : Fery Eka spt






