JAKARTA realitapublik.id — Praktisi hukum sekaligus pengama politik Syukur Mandar memberikan kritik tajam terhadap pernyataan Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengenai dampak pelemahan nilai tukar rupiah dan transaksi mata uang dolar Amerika Serikat di tingkat masyarakat bawah.
Kritik tersebut disampaikan Syukur Mandar merespons cuplikan video wawancara Misbakhun yang membela wacana pemerintah bahwa penguatan dolar tidak berdampak langsung pada masyarakat desa karena tidak bertransaksi menggunakan mata uang asing tersebut.
Dalam cuplikan tersebut, Misbakhun mengimbau agar isu dolar tidak menimbulkan kepanikan di tingkat masyarakat awam, seperti di warung kopi maupun warung makan.
“Tujuan Presiden itu untuk menenangkan masyarakat. Jangan sampai di warung kopi ngomongin dolar, di warung Indomie ngomongin dolar… apakah mereka beli kopi pakai dolar? Kan tidak,” ujar Misbakhun dalam potongan video tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Syukur Mandar mempertanyakan posisi dan peran legislator di Senayan yang dinilainya justru bertindak bak juru bicara eksekutif ketimbang penyambung lidah rakyat.
“Saya bingung, orang ini wakil rakyat atau juru bicara pemerintah? Anda itu wakil rakyat, bukan juru bicara pemerintah,” tegas Syukur Mandar.
Ia menambahkan, dampak pelemahan ekonomi dan kenaikan harga barang akibat lonjakan mata uang asing sangat dirasakan langsung oleh masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki kepastian pendapatan maupun tunjangan jabatan.
“Menenangkan masyarakat dari sisi mana? Bapak tidak terkena dampak karena digaji dan punya tunjangan. Tapi rakyat di bawah yang tidak punya pekerjaan dan penghasilan, hidupnya tertekan dengan situasi ini,” lanjutnya.
Syukur menegaskan bahwa DPR RI seharusnya berfokus mengaspirasikan kesulitan dan beban ekonomi yang dihadapi masyarakat kepada pemerintah, bukan sebaliknya membenarkan narasi yang berjarak dari realitas kehidupan warga sehari-hari. (*)
Penulis : Tim
Editor : Red






