Realitapublik.id — Ketegangan antara warga lokal dan manajemen pabrik smelter di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kabupaten Pasuruan, akhirnya berhasil diredam pada Kamis (22/10/2026). Konflik yang dipicu kehadiran aparat keamanan bersenjata di area pabrik tersebut diselesaikan melalui mediasi terbuka.
Humas pabrik smelter, Rama, mengungkapkan bahwa kehadiran aparat penegak hukum (APH) bersenjata lengkap berawal dari laporan investor asing yang mengaku menerima ancaman pembunuhan. Langkah pengamanan ekstra tersebut diambil demi menjamin keselamatan pihak investor.
Namun, pengerahan aparat bersenjata justru memicu ketakutan dan keresahan di tengah masyarakat sekitar hingga menciptakan miskomunikasi massal.
“Sebagian warga merasa terintimidasi melihat kehadiran aparat bersenjata. Padahal, pengamanan itu dilakukan sebagai respons atas laporan ancaman pembunuhan terhadap investor,” terang Rama.
Wakil Gubernur LIRA Jawa Timur, Ayi Suhaya, S.H., bersama anggota yang turun langsung menjadi mediator dalam audensi warga, menekankan pentingnya transparansi kronologi pengamanan agar tidak timbul prasangka baru. Ia mengingatkan bahwa keberlanjutan investasi tidak boleh mengorbankan hubungan harmonis dengan warga lokal.
“Jangan sampai investor takut berinvestasi di Kabupaten Pasuruan karena masalah keamanan. Namun di sisi lain, iklim kondusif juga tidak bisa dicapai jika warga merasa terintimidasi,” tegasnya.
Ayi mendesak manajemen smelter untuk membuktikan komitmen penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 60 persen bagi warga sekitar, sementara 40 persen sisanya dialokasikan untuk tenaga ahli sesuai kebutuhan manajemen. Selain itu, kejelasan program Corporate Social Responsibility (CSR) juga diminta untuk direalisasikan secara terukur.
“Perbedaan kepentingan harus diselesaikan lewat dialog terbuka, bukan memperkeruh keadaan atau mudah diadu domba oleh pihak tak bertanggung jawab,” tambahnya.
Peristiwa di kawasan PIER ini menjadi pemicu evaluasi krusial bagi Pemkab Pasuruan. Pemerintah daerah dituntut tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mediator aktif yang memverifikasi kebenaran isu keamanan sekaligus mengawal hak-hak masyarakat lokal.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kebenaran dugaan ancaman pembunuhan tersebut secara transparan, tanpa menjadikan isu keamanan sebagai dalih untuk mengabaikan aspirasi warga. ($)
Editor : Red






