YOGYAKARTA, realitapublik.id – Di balik suasana malam yang hening di lereng Gunung Merapi, aktivitas vulkanik gunung berapi paling aktif di Indonesia ini terus bergejolak tanpa kompromi. Instrumen pemantauan kembali mencatat peningkatan aktivitas pada Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan laporan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pukul 18.00 hingga 24.00 WIB, cuaca di sekitar puncak terpantau dingin dengan suhu udara berkisar antara 17,1 hingga 19,7 derajat Celsius. Awan mendung serta hembusan angin tenang ke arah timur menyelimuti kawasan lereng.

Visual puncak Merapi dilaporkan tertutup kabut dengan tingkat ketebalan 0 hingga III, sehingga kawah utama tidak teramati secara langsung.
Meski tertutup kabut, instrumen pemantau BPPTKG merekam satu kali guguran lava pijar yang meluncur deras sejauh 1.000 meter ke arah Kali Bebeng di sektor barat daya.
Petugas penyusun laporan BPPTKG, Alzwar Nurmanaji dan Tri Mujiyanta, mencatat sebanyak 31 kali gempa guguran terjadi selama enam jam masa pengamatan. Durasi gempa guguran terdeteksi cukup panjang, dengan durasi maksimal mencapai hampir 150 detik. Hal ini mengindikasikan adanya dorongan dan suplai material vulkanik dari dalam kawah menuju permukaan.
Selain guguran lava, aktivitas seismik di dalam perut Merapi juga terbilang tinggi. Catatan seismogram menunjukkan adanya 21 kali gempa hybrid (fase banyak), satu kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo signifikan. Keberadaan gempa hybrid ini mengindikasikan proses pembentukan serta pembentukan jalan magma yang terus berlangsung.
Dengan pertimbangan rentetan data kegempaan tersebut, BPPTKG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Merapi (2.968 mdpl) masih berada pada Level III (Siaga).
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya. Wilayah potensi bahaya saat ini meliputi:
Sektor Selatan dan Barat Daya: Potensi guguran lava dan Awan Panas Guguran (APG) mengancam aliran Sungai Boyong hingga radius maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga radius maksimal 7 km.
Sektor Tenggara: Potensi bahaya meliputi aliran Sungai Woro hingga radius 3 km dan Sungai Gendol hingga radius 5 km.
Ancaman Erupsi Eksplosif: Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mengancam kawasan dalam radius 3 km dari puncak.
Masyarakat di lereng Merapi diminta untuk selalu waspada, mengantisipasi potensi bahaya abu vulkanik, serta terus memantau pembaruan informasi resmi dari BPPTKG. (Feri Eka Spt)






