PASURUAN realitapublik.id – Misbah, Ketua LSM Gajah Mada, angkat bicara terkait gencarnya aktivis meminta penutupan Kafe Gempol 9 di Pasuruan. Ia mendukung langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Bupati, namun prihatin dengan sikap aktivis yang keras terhadap Gempol 9.
Dalam konteks ini, Misbah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan sesuai dengan nilai-nilai sosial masyarakat. Sehingga pemerintah kabupaten dan Bupati lebih bijaksana dalam menangani hal ini.
“Intinya saya mendukung apa yang dilakukan oleh Pemkab Kabupaten terutama Pak Bupati. Kenapa? bukannya saya mendukung kemaksiatan, saya prihatin terhadap para aktifis, yang mana sangat keras meminta Pemkab untuk menutup Gempol 9,” ucapnya.
Ia membandingkan Gempol 9 dengan Tretes, yang dianggap lebih bermasalah tidak tersentuh. Misbah merasa ada ketidakadilan dalam penanganan kasus ini dan mempertanyakan alasan di balik intensitas serangan terhadap Gempol 9.
“Padahal ada yang lebih ngeri yaitu Tretes. Itu sangat jelas, sangat vulgar, padahal disitu sangat jelas bisnis esek-esek (lendir) yang dikelola oleh orang luar kota Pasuruan kenapa tidak ditutup dan sekelas Gempol 9 hanya warung kopi dan ada beberapa kafe disitu kok sangat intens mereka menyerang Gempol 9, ada apa?,” herannya.
Misbah meminta agar masyarakat dan pemerintah lebih bijak dalam menyikapi masalah ini, mempertimbangkan nasib para pekerja, dan mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
“Ayolah, kita lebih bijak, kasihan mereka itu hanya mencari makan, banyak janda-janda di situ yang mana mereka itu dituntut upaya untuk bisa menghidupi keluarganya. Kita bukan orang suci, saudara Makki dan saudara Ayik, juga saya bukan orang suci. Jangan munafik lah jadi orang,” tutur Misbah.
Ia berharap Pemkab lebih fokus pada tempat-tempat yang lebih vulgar dan bermasalah, bukan hanya menargetkan Gempol 9.
“Jadi saya mengharapkan kepada Pak Bupati agar lebih bijak dalam menyikapi masalah di Gempol 9 ada yang lebih vulgar tetes yang harus ditutup. jangan hanya sebuah kafe tempat ngopi yang merupakan tempat hiburan nyanyi-nyanyi saja. Kasihan mereka mereka juga manusia mereka butuh keadilan jangan terlalu dipaksakan lah. Ada apa dengan gempol 9, ada apa?,” paparnya.
Penulis : Saichu
Editor : Red







