Berbicara Sebagai Komprador Untuk Mengekspresikan Diri  

- Jurnalis

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis, Achmad Farchan Zainudin, Mahasiswa Fakultas FBS, Universitas Negeri Surabaya. 

i

Penulis, Achmad Farchan Zainudin, Mahasiswa Fakultas FBS, Universitas Negeri Surabaya. 

Ekspresi diri sering kali keluar ketika kita melakukan interaksi. Proses interaksi dihasilkan melalui sebuah komunikasi. Sementara itu, komunikasi terjadi saat kita sedang berbicara.

 

Berbicara merupakan sebuah ‘kondimen’ penting dalam kehidupan. Tanpa berbicara, hidup menjadi sunyi, sepi, dan hampa. Itulah yang saya rasakan sebelum belajar mata kuliah keterampilan berbicara.

 

Kala itu, saya sering sekali menutup diri. Kurang berkomunikasi, tidak banyak bicara, dan kurang berinteraksi dengan sesama. Dulu, materi sekolah menengah yang paling saya takuti bukan matematika melainkan adalah Public Speaking.

 

Trauma itu terbawa hingga di bangku kuliah. Bahkan, saya sempat terkejut karena ada mata kuliah keterampilan berbicara. Tentu saya sedikit takut dengan mata kuliah tersebut.

 

Mengingat saya adalah orang pendiam dan introvert. Saya sampai berpikir “Apakah saya salah jurusan?”. Awal masuk perkuliahan tepat saat mata kuliah keterampilan berbicara, alangkah terkejutnya saya. Ternyata dosen yang mengampu mata kuliah tersebut sangat ramah, sabar dan murah senyum.

 

Kesempatan ini membuat saya merubah trauma itu menjadi resiliensi. Saya terus berusaha dan tekun belajar mengenai keterampilan ini.

 

Mata kuliah ini sangat bermanfaat bagi diri saya. Awalnya, saya yang takut untuk berbicara menjadi lebih berani untuk mengungkapkan rasa emosional.

 

Saya menyadari bahwa rasa emosional itu penting dalam memengaruhi kehidupan.

 

Orang yang memiliki rasa emosional tinggi cenderung suka berbicara. Biasanya mereka berbagi pengalaman dan meminta solusi suatu masalah kepada sesama. Sebaliknya, jika seseorang tidak sering berbicara cenderung merasakan tekanan batin pada rasa emosionalnya. Mereka biasanya suka memendam masalah dan menyendiri. Hal ini tentu berakibat fatal pada kesehatan mental mereka. Terlebih lagi mirisnya ada yang sampai sakit hingga bunuh diri.

 

Itulah sebab betapa pentingnya mata kuliah ini. Selain mengasah kemampuan public speaking, hal ini juga berdampak pada kesehatan mental seseorang.

 

Selama mengikuti perkuliahan, saya sangat memahami materi yang telah bapak dosen sampaikan. Tetapi, yang paling berkesan bagi saya adalah pertemuan ke-12. Para mahasiswa diminta berkelompok, lalu mencari dan mereview jurnal tentang berbicara. Setelah itu, mempresentasikan hasil review dan menampilkan berbagai penampilan. Kelompok saya memilih untuk merieview jurnal pengaruh penggunaan buku cerita bergambar terhadap kemampuan berbicara anak usia 4-5 tahun.

 

Kelompok saya sepakat untuk menampilkan sebuah drama singkat. Saya mengambil peran sebagai guru dan teman saya sebagai murid TK.

 

Menurut saya pribadi, keterampilan berbicara tidak hanya dilatih saat dewasa saja. Melainkan, orang tua dan guru menjadi peran penting dan faktor utama. Selama ini, mungkin saya kurang dilatih untuk berani mengemukakan pendapat dan bercerita sejak dini. Orang tua dan guru saya mungkin memiliki prinsip yang berbeda. Tetapi, semua itu biarlah menjadi angin yang berlalu.

 

Sekarang, saatnya saya memutus rantai trauma itu kepada anak saya pada masa mendatang.

 

Selain materi, tentu ada sebuah tantangan dibalik kesan yang tersimpan. Tantangan saya dalam menjalani perkuliahan selama satu semester adalah melawan rasa malu, putus asa, dan kecewa. Rasa malu muncul saat berbicara di depan kelas atau menyampaikan pendapat kepada teman sekelas.

 

Saya jujur dari dini memang pemalu. Biasanya kalau malu, saya suka mengecilkan suara dan lupa tentang pembicaraan yang akan disampaikan.

 

Lalu, saya pernah sampai putus asa menjalani mata kuliah ini. Putus asa karena saya sudah tidak bisa public speaking. Rasa takut akan mengulang mata kuliah di semester depan itu sangatlah nyata.

 

Setakut itu, ditambah lagi kekecewaan yang melilit hati. Jujur, saya kecewa berat dengan diri saya. Karena teman-teman saya memiliki bakat semua. Diantaranya ada yang berbakat puisi, public speaking, story telling, dan drama.

 

Di sisi lain, saya selalu belajar dari pengalaman dan selalu berdoa supaya lancar di segala urusan. Menurut saya, bakat itu muncul ketika kita terbiasa melakukan sesuatu. Kebiasaan yang terus di asa akan menghasilkan sebuah hadiah. Disitulah saya mulai melatih diri saya untuk berani berbicara. Mulai berbicara di depan kaca, berpendapat kepada sesama, dan selalu mengekspresikan diri ketika berbicara. Sehingga, semua rasa malu, putus asa, dan kecewa menjadi sirna.

 

Kini, saya sudah lebih menguasai keterampilan berbicara. Dulu, saya yang awalnya trauma public speaking menjadi berani. Terutama berani untuk mengemukakan pendapat saat kelas berlangsung.

 

Memang public speaking itu sulit, bagi orang yang tidak terbiasa berbicara. tapi, lama-lama menjadi mudah, jika sering dilatih.

 

Kuncinya tetap percaya diri, walaupun ada perasaan malu. Secara alami, rasa itu akan terus muncul jika kita tidak ingin mecoba untuk berubah. Percaya diri ini muncul ketika seseorang mengenali dan memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

 

Tak hanya itu, berani juga merupakan cadangan besar untuk menunjang rasa percaya diri. Saling mendukung dan menyemangati serta interaksi sosial yang supportif.

 

Selain ilmu public speaking, ilmu yang saya dapat dari mata kuliah keterampilan berbicara adalah artikulasinya.

 

Artikulasi dalam berbicara itu sama pentingnya dengan rasa percaya diri. Artikulasi adalah proses pengeluaran ucapan atau perkataan lewat bibir, sehingga kata-kata yang terucap jelas. Intinya artikulasi itu perkataan yang mudah dimengerti oleh orang lain dan jelas.

 

Dengan adanya artikulasi, berbicara menjadi lebih jelas, mudah dipahami, dan efektif.

 

Selanjutnya adalah intonasi. Ketika berbicara intonasinya harus tepat. Hal ini bertujuan agar meminimalisir terjadinya salah paham. Karena intonasi berpengaruh pada tinggi dan rendah nya bunyi itu dihasilkan.

 

Ketika berbicara, kita perlu menyesuaikan keadaan sekitar. Misalnya, dalam keadaan marah intonasi bicara tinggi atau bersifat bentakan. Sebaliknya, jika dalam keadaan sedih maka intonasi bicaranya rendah dan lemah lembut.

 

Selama satu semester, tetu saya memiliki sebuah pengalaman berbicara langsung di lapangan. Salah satu pengalaman tersebut adalah mewawancarai mahasiswa menggunakan alat peraga.

 

Awalnya, saya kira tugas ini boleh dilaksanakan dengan teman sekelas. Tetapi, kata bapak dosen harus mewawancarai orang random dan tidak boleh sesama prodi. Wah, tentu sebagai seorang introvert saya merasa tertantang.

 

Keluar kelas, langsung saya hampiri seseorang dan menjelaskan alat peraga yang saya bawa. Fun fact nya alat peraga yang saya bawa adalah serbet. Serbet yang biasanya dibuat emak-emak masak di dapur. Sungguh malu sebenarya, tapi apalah daya. Akhirnya, setelah selesai wawancara dan video saya langsung lega.

 

Lalu, pengalaman yang kedua adalah bermain drama. Tepatnya drama berkelompok.

 

Kelompok saya waktu itu mengangkat judul “Bawang Merah dan Bawang Putih”. Saya berperan sebagai seorang pangeran yang menjemput bawang putih dan menikahinya.

 

Bawang putih yang malang itu pun berubah nasibnya menjadi seorang putri kerajaan yang bersuami pangeran.
Selama satu semester, saya cukup banyak melampui keluh dan kesah. Terutama di mata kuliah keterampilan berbicara. walaupun, ini bukan tempat saya untuk bersinar. Saya tetap senang, karena sudah mendapat banyak pengalaman. Terutama pengalaman di didik oleh bapak dosen dan pengalaman terjun langsung ke lapangan.

 

Saya menyadari bahwa berbicara itu tidak hanya sekadar berkata-kata. Tetapi, cara untuk bertahan dan berekspresi melalui hati.

Berita Terkait

Cita-cita Reformasi Kandas Rakyat Indonesia Semakin Tertindas
Sikap dan Framing Negatif atas Pesantren: Sebagai Simbol Pendidikan Karakter Dunia Pendidikan
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:00 WIB

Berbicara Sebagai Komprador Untuk Mengekspresikan Diri  

Senin, 1 Desember 2025 - 22:21 WIB

Cita-cita Reformasi Kandas Rakyat Indonesia Semakin Tertindas

Kamis, 16 Oktober 2025 - 08:45 WIB

Sikap dan Framing Negatif atas Pesantren: Sebagai Simbol Pendidikan Karakter Dunia Pendidikan

Berita Terbaru