PEKALONGAN, Realitapublik.id — Kemeriahan Hari Raya Idulfitri 1447 H mencapai puncaknya di Kota Pekalongan melalui tradisi “Syawalan” atau H+7 lebaran. Ikon utama yang paling dinanti, Festival Lopis Raksasa, kembali menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan di kawasan Krapyak Kidul Gang 8 (Sembawan), Kecamatan Pekalongan Utara, Sabtu (28/03/2026).
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan simbol berakhirnya rangkaian ibadah puasa Syawal sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi warga Kota Batik.
Lopis berukuran jumbo ini lahir dari tangan dingin warga yang bergotong royong sejak H+2 lebaran. Dibutuhkan perjuangan ekstra dan waktu sekitar tiga hari untuk mengolah 5 kuintal beras ketan menjadi satu kesatuan lopis yang utuh.
Tahun ini, Lopis Raksasa Krapyak tampil memukau dengan spesifikasi yang fantastis:
Diameter: 262 cm
Tinggi: 239 cm
Berat Total: 2.083 kg (Lebih dari 2 Ton)
Lebih dari sekadar makanan khas, Lopis memiliki makna mendalam yang diwariskan oleh para ulama terdahulu, termasuk KH Abdullah Sirodj yang mempopulerkannya.
* Tekstur Lengket: Melambangkan eratnya tali persaudaraan antarwarga yang tak mudah terputus.
* Warna Putih: Simbol kesucian hati setelah kembali ke fitrah.
* Makna Sosial: Simbol pengakuan kesalahan dan ajakan untuk saling memaafkan di hari kedelapan Syawal.
Festival ini terbukti menjadi magnet wisata budaya yang kuat. Desy Apriliani, seorang pengunjung asal Comal, mengaku rutin menyambangi Pekalongan setiap momen Syawalan.
“Alhamdulillah, saya rutin ke sini setiap acara Syawalan sekalian silaturahmi ke rumah saudara di Sugih Waras. Pulangnya pasti dibawakan oleh-oleh lopis oleh saudara,” ujarnya dengan raut bahagia.
Pemerintah Kota Pekalongan melihat tradisi ini sebagai aset budaya sekaligus penggerak roda ekonomi lokal. Sepanjang jalan menuju lokasi festival, para pedagang lopis skala kecil hingga UMKM lokal turut kecipratan berkah dari membeludaknya pengunjung.
Melalui perpaduan nilai religius, sosial, dan budaya, Festival Lopis Raksasa diharapkan tetap terjaga kelestariannya. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang membuktikan bahwa identitas Kota Pekalongan sebagai Kota Batik juga kaya akan tradisi kuliner spiritual yang unik di Indonesia.
Penulis : Fery Eka spt






