KOTA PASURUAN realitapublik.id — Warga Kelurahan Sebani, khususnya di lingkungan RW 05 dan RW 06, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, kembali menggelar tradisi tahunan Haul Buyut Tentrem pada Minggu (18/6/2026) malam. Acara yang diisi dengan istigatsah, pembacaan surat Yasin, tahlil, serta tasyakuran ini berlangsung khidmat sekaligus meriah berkat swadaya masyarakat setempat.
Makam Buyut Tentrem yang dikeramatkan dan diyakini sebagai makam Wali Allah ini diperingati setiap tahunnya, tepat pada bulan Muharram atau bulan Suro dalam kalender Jawa. Dari tahun ke tahun, antusiasme warga justru semakin meningkat berkat kepedulian para tokoh masyarakat yang terus konsisten menjaga kelestarian situs religi tersebut.

Terletak di Jalan Buyut Tentrem (RT 02 / RW 06) Kelurahan Sebani, di dalam bangunan utama makam terdapat dua pusara yang diyakini sebagai pasangan suami istri. Menurut cerita turun-temurun dari para sesepuh, makam ini sudah ada jauh sebelum Kelurahan Sebani berkembang menjadi permukiman padat penduduk.
Di masa lampau, kekentalan adat Jawa sangat melekat di tempat ini. Warga yang merayakan hasil panen melimpah atau memiliki hajat (nazar) kerap datang membawa sesaji dan membakar dupa di area makam. Atas dasar itulah, puluhan tahun silam, para tokoh agama setempat sepakat menamai area tersebut sebagai Makam Buyut Tentrem, yang juga diabadikan sebagai nama jalan masuk gang.
Kekeramatan makam ini begitu melekat di hati masyarakat. Warga sekitar percaya bahwa doa-doa yang dipanjatkan di tempat ini kerap dikabulkan. Tidak hanya warga lokal, makam ini juga sering didatangi oleh peziarah dari luar daerah yang sengaja datang untuk melakukan ziarah kubur.
Di balik kesakralannya, Makam Buyut Tentrem juga menyimpan beberapa kisah mistis yang masih melekat kuat di ingatan warga pribumi. Konon, jika ada burung yang terbang melintas tepat di atas bangunan makam, burung tersebut akan langsung jatuh dan mati.
Tak hanya itu, ada pula cerita unik mengenai pos jaga yang berada di sebelah timur makam. Warga setempat mengisahkan, jika ada seseorang yang nekat tidur membelakangi makam di pos tersebut, maka saat terbangun, posisi tidurnya secara misterius sudah berpindah ke area pemakaman umum Sebani.
Melalui ritual selamatan tahunan ini, warga berharap memperoleh barokah (keberkahan) agar senantiasa diberikan kedamaian hidup serta dijauhkan dari segala marabahaya.
Ada yang berbeda pada peringatan haul kali ini. Selain semakin meriah, dana swadaya yang dikumpulkan dari masyarakat ternyata melebihi target panitia. Kelebihan dana tersebut kemudian disalurkan dalam bentuk santunan kepada anak-anak yatim dan piatu di wilayah sekitar.
Mbah Marijan, selaku juru kunci sekaligus perawat makam, mengaku sangat bersyukur melihat peningkatan kepedulian warga tersebut.
“Alhamdulillah, warga makin kompak dan antusias. Tahun ini kita tidak hanya berdoa, tapi juga bisa langsung berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim,” ujarnya.
Ia berharap, pada tahun-tahun mendatang, acara haul ini bisa dikemas dengan lebih besar lagi agar jangkauan santunan dapat meluas hingga ke luar wilayah Kelurahan Sebani.
Rangkaian acara malam itu ditutup dengan mendengarkan tausiyah dari penceramah agama, lalu dilanjutkan dengan tradisi ramah tamah dan makan bersama seluruh warga sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang melimpah dari Allah SWT.
Penulis : Saichu







