Aksi Kamisan: Menolak Lupa, Menggugat Impunitas Pascareformasi

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

SURABAYA, realitapublik.id — Isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu kembali disuarakan dalam aksi damai Kamisan di Surabaya, Kamis (18/6/2026) sore. Gerakan yang awalnya diinisiasi di depan Istana Merdeka Jakarta oleh ibu korban tragedi 1998 ini, kini konsisten menjamur di berbagai daerah sebagai wadah merawat ingatan dan menuntut keadilan.

 

Aksi yang digelar di pinggir jalan raya area Taman Apsari, tepatnya di Jalan Gubernur Suryo, depan Gedung Negara Grahadi menjadi ruang bagi masyarakat untuk terus menggugat komitmen negara. Gerakan ini diisi oleh gabungan solidaritas warga umum, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga elemen masyarakat sipil lainnya. Mereka menuntut kejelasan mengenai keberadaan para korban yang diduga dihilangkan secara paksa atau dibunuh pada masa pergolakan politik masa lalu.

Baca Juga :  Mediasi Sengketa Lahan PTSL Desa Kidal Batal Sepihak, Kuasa Hukum Korban: Taktik Busuk Mengulur Waktu!

 

Pantauan di lapangan menunjukkan massa aksi membawa sejumlah banner dan bentangan kertas yang menyuarakan kritik tajam. Di antaranya bertuliskan, “Adili pembunuh Marsinah, lawan impunitas!” serta “Reformasi hanya ilusi, impunitas mengakar.”

Sandi, salah satu warga sipil yang turut serta dalam aksi tersebut, menegaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah menuntut pertanggungjawaban negara terhadap hak-hak para korban yang selama ini terabaikan.

 

“Dari awal kita meminta hak-hak orang yang direnggut hak hidupnya oleh negara. Jika mereka masih hidup, di mana mereka? Jika pun sudah meninggal, di mana jasad mereka? Karena banyak jasad yang belum ditemukan sampai sekarang,” ujar Sandi saat ditemui di sela-sela aksi.

Baca Juga :  Terpeleset dari Jembatan Kembar Sumberkolak, Pemulung Asal Semambung Alami Patah Tulang Paha 

 

Selain mempertanyakan keberadaan korban, massa juga menyoroti lambatnya penegakan hukum bagi para aktor intelektual maupun pelaku di lapangan yang hingga kini dinilai masih kebal hukum (impunitas).

 

“Kita meminta kejelasan hukum bagi mereka yang menghilangkan dan membunuh itu. Sampai sekarang mereka tidak tersentuh hukum. Kan lucu, ada korban tapi tidak ada pelaku,” tambah Sandi.

 

Meskipun tuntutan pemenuhan hak korban HAM menjadi agenda utama yang konstan, Aksi Kamisan juga dikenal adaptif terhadap isu-isu sosial-politik terkini yang berkembang setiap minggunya. Untuk aksi kali ini, fokus yang diangkat adalah kritik tebal terhadap situasi pascareformasi.

 

Sandi menjelaskan bahwa agenda reformasi saat ini seolah kehilangan relevansinya mengingat masih suburnya praktik impunitas di Indonesia. Negara dinilai memiliki kekuatan penuh (power) untuk mengusut tuntas seluruh kasus pelanggaran HAM berat. Namun, hingga kini pemerintah dianggap belum menunjukkan kemauan politik (political will) yang kuat demi memulihkan hak-hak korban serta keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga :  Diduga Mengantuk, Pengendara Motor Tabrak Tukang Becak di Jalan Raya Pekajangan

 

Meskipun sering kali diidentikkan dengan gerakan mahasiswa, Sandi meluruskan bahwa Aksi Kamisan adalah gerakan inklusif. Aksi ini terbuka lebar bagi seluruh lapisan masyarakat sipil tanpa memandang latar belakang institusi, kelompok, atau sekte tertentu.

 

“Gerakan ini sejatinya memanggil siapa saja yang merasa memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan kemanusiaan dan merawat hukum yang berkeadilan di Indonesia,” pungkasnya.

Penulis : Chu

Berita Terkait

Dua Hari Pencarian, Nelayan KM Timbul Barokah yang Tenggelam di Batang Ditemukan Meninggal Dunia
Sama-Sama Pengedar tapi Berkas Dipisah, Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Narkoba Siap Lapor Jamwas dan Ombudsman
Terpeleset Saat Istirahat, Nelayan KM Timbul Barokah Batang Hilang Terseret Arus Sungai Sambong
Korban Tenggelam di Sungai Banger Pekalongan Timur Ditemukan Meninggal di Pintu Air
Blokade Polisi Warnai Aksi Unjuk Rasa Ribuan Mahasiswa BEM Se-Jabodetabek di Jakarta
Gagal Menyalip dari Kiri, Dua Wanita Pengendara Motor Tewas Tergilas Truk Tronton di Gadingrejo
Kebakaran Hebat Melanda SDN 14 Tulang Bawang Tengah, Deretan Ruang Kelas Hangus Terbakar 
Kredibilitas Fiskal Jadi Kunci, Chatib Basri Ungkap Penentu Utama Pelemahan Rupiah
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:40 WIB

Dua Hari Pencarian, Nelayan KM Timbul Barokah yang Tenggelam di Batang Ditemukan Meninggal Dunia

Jumat, 19 Juni 2026 - 00:09 WIB

Sama-Sama Pengedar tapi Berkas Dipisah, Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Narkoba Siap Lapor Jamwas dan Ombudsman

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:14 WIB

Terpeleset Saat Istirahat, Nelayan KM Timbul Barokah Batang Hilang Terseret Arus Sungai Sambong

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:10 WIB

Korban Tenggelam di Sungai Banger Pekalongan Timur Ditemukan Meninggal di Pintu Air

Sabtu, 13 Juni 2026 - 20:14 WIB

Blokade Polisi Warnai Aksi Unjuk Rasa Ribuan Mahasiswa BEM Se-Jabodetabek di Jakarta

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:56 WIB

Gagal Menyalip dari Kiri, Dua Wanita Pengendara Motor Tewas Tergilas Truk Tronton di Gadingrejo

Kamis, 11 Juni 2026 - 14:12 WIB

Kebakaran Hebat Melanda SDN 14 Tulang Bawang Tengah, Deretan Ruang Kelas Hangus Terbakar 

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:52 WIB

Kredibilitas Fiskal Jadi Kunci, Chatib Basri Ungkap Penentu Utama Pelemahan Rupiah

Berita Terbaru