SITUBONDO, realitapublik.id – Ratusan ribu jemaah dari berbagai penjuru tanah air, pulau Madura, hingga mancanegara seperti Malaysia, memadati Alun-alun Situbondo dan sejumlah ruas jalan protokol untuk menghadiri Haul Masyayikh Nusantara dan Doa Bersama untuk Indonesia, Minggu (19/07/2026).
Pantauan di lokasi, arus kedatangan jemaah yang menggunakan bus, kendaraan pribadi, hingga rombongan besar terus mengalir membanjiri “Kota Santri” sejak Sabtu malam. Guna mengantisipasi membeludaknya massa yang tidak tertampung di pusat acara, panitia memasang 25 unit videotron di berbagai titik strategis kota untuk mengurai kepadatan.
Atmosfer haru dan getaran spiritual yang mendalam sangat terasa saat acara dimulai. Gema lantunan doa dan Sholawat Nariyah yang dibacakan secara serempak oleh ratusan ribu jemaah membubung ke udara. Lantunan salawat ini tidak hanya berpusat di alun-alun, melainkan mengular hingga ke jalur-jalur utama kota, seperti Jalan PB Sudirman, Jalan Basuki Rahmad, Jalan Ahmad Yani, Jalan Diponegoro, hingga Jalan Pemuda di Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji.
Majelis akbar ini dipimpin langsung oleh ulama kharismatik KHR. Kholil As’ad (Pengasuh Ponpes Walisongo, Situbondo). Acara ini juga dihadiri oleh ratusan kiai, masyayikh, dan ibu nyai dari berbagai pondok pesantren besar di Indonesia. Di antaranya Gus Kautsar (Ploso, Kediri), KH Zuhri Zaini (Ponpes Nurul Jadid, Probolinggo), KH Kholil Dahlan (Pengasuh Ponpes Rejoso Peterongan, Jombang), serta KH Munir Syafa’at (Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadi-in, Kota Gede Yogyakarta).
Dalam tausiyahnya Gus Kautsar dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, menekankan pentingnya istikamah mengamalkan Sholawa.
“Kita berharap baik kita maupun seluruh jamaah bisa terus istiqomah dalam membaca sholawat, khususnya Sholawat Nariyah. Ini menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Haul Masyayikh yang juga Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menegaskan bahwa seluruh pendanaan kegiatan ini murni berasal dari swadaya masyarakat tanpa menyentuh dana APBD.
“Operasional kegiatan ini murni hasil iuran seluruh jemaah Salawat Nariyah Ittisholana. Tidak menggunakan APBD maupun anggaran Pemerintah Kabupaten Situbondo. Saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada para kiai dan pengasuh ponpes luar daerah yang telah berkenan hadir,” ujar pria yang akrab disapa Mas Rio tersebut.
Mengingat Haul Masyayikh ini bukan agenda resmi pemerintah daerah, Mas Rio menambahkan bahwa keberlanjutan kegiatan ini ke depan diserahkan sepenuhnya kepada keputusan jemaah dan para masyayikh, termasuk KHR. Kholil As’ad. Berdasarkan informasi sementara, majelis akbar serupa kemungkinan baru akan digelar kembali dalam rentang waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Menariknya dari perhelatan ini adalah kuatnya nilai gotong royong warga lokal. Komunitas warga Situbondo dan Bondowoso secara sukarela mendirikan posko swadaya untuk menyediakan ratusan ribu nasi gulung, makanan, serta minuman gratis bagi para jemaah yang datang dari jauh.
Momentum ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda akan pentingnya menjaga adab kepada guru serta melestarikan tradisi keilmuan para ulama.(*)
Penulis : Abdul Hakim






