Kota Pasuruan realitapublik.id – Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Kota Pasuruan akan diwarnai oleh acara yang berbeda, Orasi Kebangsaan dan pagelaran seni Bantengan.
Digagas oleh Forum Rakyat Kota Pasuruan Bangkit (FRKPB) yang didukung berbagai elemen masyarakat, acara ini bertujuan menjadi wadah dialog dan kritik yang terbuka bagi semua warga. Bertempat di lapangan Bong, Kelurahan Mancilan, Kecamatan Pohjentrek, acara akan digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, mulai pukul 19.00 WIB.
Koordinator acara, Ayik Suhaya, didampingi Saipul Arif dan Mudrik Maulana, menyatakan bahwa orasi ini merupakan wujud kecintaan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa, khususnya di Pasuruan. Rabu (20/8/25)
“Kami ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, maupun harapan secara terbuka. Ini adalah orasi kebangsaan pertama yang kami gelar,” ujar Ayik, yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur LIRA Jatim.

Acara ini akan diawali dengan sesi orasi yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, anggota DPRD, hingga Wali Kota Pasuruan. Uniknya, warga yang hadir juga diberi kesempatan untuk menyuarakan pandangan mereka mengenai berbagai isu, mulai dari masalah lokal hingga dugaan kebobrokan birokrasi.
“Jangan ragu, sampaikan dengan jujur dan semangat membangun. Pemimpin harus pro-rakyat dan menepati janjinya,” tambah Ayik, sembari mengingatkan pentingnya menolak narkoba dan praktik intimidasi.
Koordinator Saipul Arif secara khusus menyinggung kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang meresahkan warga. “Kami minta kepala daerah jangan semena-mena dan jangan sakiti rakyat!” tegasnya, menambahkan bahwa kemerdekaan sejati harus membawa perubahan nyata, bukan sekadar formalitas.
Senada, Mudrik Maulana mengingatkan agar Pasuruan tidak “mati nuraninya, mati demokrasinya, dan mati harapannya” seperti di Kota Pati. Menurutnya, praktik pencitraan semu dan sistem yang anti-kritik hanya akan merusak tatanan sosial-politik.
“Rakyat sekarang makin pintar. Kalau pemimpin hanya sibuk pencitraan, ya tinggal tunggu waktu saja. Pasuruan jangan sampai jadi begitu,” tegasnya.
Acara yang terbuka untuk umum ini diharapkan menjadi refleksi kemerdekaan yang sesungguhnya, di mana rakyat bisa bebas bersuara dan menikmati budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.
Penulis : Chu
Editor : Red







