SEMARANG, Realitapublik.id — Wilayah Jawa Tengah tengah menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi yang serius. Selain banjir bandang dan longsor, fenomena tanah bergerak (land subsidence/creeping) kini menjadi ancaman nyata bagi warga di Kelurahan Jangli (Semarang) dan Jatinegara (Tegal).
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, memberikan penjelasan ilmiah mengenai karakteristik bencana yang terjadi tiba-tiba namun bergerak secara perlahan tersebut.
Berdasarkan hasil investigasi geologi, pergerakan tanah di wilayah Tegal dan beberapa titik di Semarang diidentifikasi sebagai jenis gerakan tanah Rayapan (creeping). Jenis tanah yang terlibat dalam fenomena ini adalah Lempung (clay).
“Hasil kajian teman-teman di lapangan menunjukkan ini adalah creeping. Lapisan tanahnya berjenis clay atau lempung. Sifat tanah ini jika terkena air akan merayap pelan-pelan. Karena areanya luas dan berada pada kemiringan lereng, litologi tanah tersebut akhirnya bergerak,” jelas Agus Sugiharto, Selasa (10/02/2026).
Selain Tegal dan Kelurahan Jangli (area Candi Golf Semarang), fenomena serupa juga ditemui di:
Kabupaten Boyolali: Kecamatan Simo.
Kabupaten Pemalang: Kecamatan Watukumpul.
Kota Semarang: Wilayah Greenwood Kali Pancur dan area Gombel.
Agus memaparkan bahwa tanah lempung memiliki sifat impermeable (kedap air) namun memiliki porositas yang tinggi. Artinya, lempung sangat kuat menyerap air tetapi sangat sulit untuk melepaskannya kembali.
“Pemicu utamanya adalah air hujan. Jika sistem drainase tidak dibenahi, air masuk ke dalam tanah dan menambah beban massa tanah tersebut. Air yang terjebak di dalam lempung akan melemahkan daya ikat antar-butir tanah, sehingga tanah menjadi lemah dan mulai bergerak,” paparnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan langkah solutif bagi warga yang rumahnya tidak lagi layak huni akibat kerusakan struktur tanah. Khusus untuk warga Tegal, pemerintah telah menyediakan dua lokasi lahan milik Perhutani sebagai tempat relokasi atau hunian tetap (Huntap).
“Hari ini kami mengirimkan tim untuk melakukan kajian detail dan teliti guna memastikan lokasi cadangan hunian tetap tersebut betul-betul aman dari potensi gerakan tanah di masa depan,” tambah Agus.
Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada, terutama saat curah hujan tinggi, dan memastikan saluran drainase di sekitar pemukiman tidak tersumbat agar air tidak meresap ke dalam lapisan lempung secara berlebihan. Penjelasan ini diharapkan menjadi referensi bagi warga agar lebih tanggap bencana dan mampu meminimalisir risiko korban jiwa.
Penulis : Fery Eka Saputra






