ESDM: Bencana Hidrometeorologi “Rayapan Lempung” Melanda Semarang dan Tegal

- Jurnalis

Rabu, 11 Februari 2026 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

SEMARANG, Realitapublik.id — Wilayah Jawa Tengah tengah menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi yang serius. Selain banjir bandang dan longsor, fenomena tanah bergerak (land subsidence/creeping) kini menjadi ancaman nyata bagi warga di Kelurahan Jangli (Semarang) dan Jatinegara (Tegal).

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, memberikan penjelasan ilmiah mengenai karakteristik bencana yang terjadi tiba-tiba namun bergerak secara perlahan tersebut.

 

Berdasarkan hasil investigasi geologi, pergerakan tanah di wilayah Tegal dan beberapa titik di Semarang diidentifikasi sebagai jenis gerakan tanah Rayapan (creeping). Jenis tanah yang terlibat dalam fenomena ini adalah Lempung (clay).

Baca Juga :  Prof. Warsito Lepas Ribuan Peserta Semadap Blaze Fun Walk 2026 Darul Fattah

 

“Hasil kajian teman-teman di lapangan menunjukkan ini adalah creeping. Lapisan tanahnya berjenis clay atau lempung. Sifat tanah ini jika terkena air akan merayap pelan-pelan. Karena areanya luas dan berada pada kemiringan lereng, litologi tanah tersebut akhirnya bergerak,” jelas Agus Sugiharto, Selasa (10/02/2026).

 

Selain Tegal dan Kelurahan Jangli (area Candi Golf Semarang), fenomena serupa juga ditemui di:

Kabupaten Boyolali: Kecamatan Simo.

Kabupaten Pemalang: Kecamatan Watukumpul.

Kota Semarang: Wilayah Greenwood Kali Pancur dan area Gombel.

 

Agus memaparkan bahwa tanah lempung memiliki sifat impermeable (kedap air) namun memiliki porositas yang tinggi. Artinya, lempung sangat kuat menyerap air tetapi sangat sulit untuk melepaskannya kembali.

Baca Juga :  Semarakkan HUT Ke-81 Jatim, Pasar Murah Dadakan Diserbu Warga Panggungrejo

 

“Pemicu utamanya adalah air hujan. Jika sistem drainase tidak dibenahi, air masuk ke dalam tanah dan menambah beban massa tanah tersebut. Air yang terjebak di dalam lempung akan melemahkan daya ikat antar-butir tanah, sehingga tanah menjadi lemah dan mulai bergerak,” paparnya.

 

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan langkah solutif bagi warga yang rumahnya tidak lagi layak huni akibat kerusakan struktur tanah. Khusus untuk warga Tegal, pemerintah telah menyediakan dua lokasi lahan milik Perhutani sebagai tempat relokasi atau hunian tetap (Huntap).

Baca Juga :  Perjalanan Linda Benny: Dari Pengusaha Sukses Delanggu hingga Mengemban Amanah Wabup Klaten

 

“Hari ini kami mengirimkan tim untuk melakukan kajian detail dan teliti guna memastikan lokasi cadangan hunian tetap tersebut betul-betul aman dari potensi gerakan tanah di masa depan,” tambah Agus.

 

Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada, terutama saat curah hujan tinggi, dan memastikan saluran drainase di sekitar pemukiman tidak tersumbat agar air tidak meresap ke dalam lapisan lempung secara berlebihan. Penjelasan ini diharapkan menjadi referensi bagi warga agar lebih tanggap bencana dan mampu meminimalisir risiko korban jiwa.

Penulis : Fery Eka Saputra

Berita Terkait

PERNYATAAN SIKAP KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Atas Kasus Anak Down Syndrome Meninggal Dunia Diduga Akibat Bullying di Surabaya
Skandal KUR Fiktif BRI Kepanjen Tembus Rp 2,7 Miliar: Kejari Malang Tetapkan 6 Tersangka, Libatkan Mantri Hingga Perangkat Desa
Diterpa Isu Terima Uang Proyek PJU Desa Selomukti, Ustadz Hamidi Bantah Tegas dan Siap Lapor Polisi
Rekapitulasi Pilkati Serentak TUBABA 2026, Berikut Daftar Kepalo Tiyuh Terpilih 
Konflik Anggota DPRD Malang dan Pak Dur Berakhir Damai, Kasus Tetap Lanjut Berproses
Selundupkan 5 Kg Ganja Lewat Ekspedisi, Petani Asal Pujon Ditangkap Polres Batu
Pilkati Serentak Tubaba 2026, Kapolres dan Forkopimda Tinjau Kesiapan Pengamanan TPS
Permudah Usulan Bansos, Pemkec Suboh Fasilitasi Layanan Portal Perlinsos di Mojodungkol
Berita ini 60 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:44 WIB

PERNYATAAN SIKAP KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Atas Kasus Anak Down Syndrome Meninggal Dunia Diduga Akibat Bullying di Surabaya

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Skandal KUR Fiktif BRI Kepanjen Tembus Rp 2,7 Miliar: Kejari Malang Tetapkan 6 Tersangka, Libatkan Mantri Hingga Perangkat Desa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Diterpa Isu Terima Uang Proyek PJU Desa Selomukti, Ustadz Hamidi Bantah Tegas dan Siap Lapor Polisi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Rekapitulasi Pilkati Serentak TUBABA 2026, Berikut Daftar Kepalo Tiyuh Terpilih 

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Konflik Anggota DPRD Malang dan Pak Dur Berakhir Damai, Kasus Tetap Lanjut Berproses

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Selundupkan 5 Kg Ganja Lewat Ekspedisi, Petani Asal Pujon Ditangkap Polres Batu

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:12 WIB

Pilkati Serentak Tubaba 2026, Kapolres dan Forkopimda Tinjau Kesiapan Pengamanan TPS

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:18 WIB

Permudah Usulan Bansos, Pemkec Suboh Fasilitasi Layanan Portal Perlinsos di Mojodungkol

Berita Terbaru