TULANG BAWANG BARAT, realitapublik.id – Wali murid SD Negeri 22 Tiyuh Gunung Timbul, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), mengeluh dan menilai kuantitas dan kualitas menu makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima murid beberapa hari di bulan Ramadan 1447 Hijriah ini tidak sesuai ekspektasi.
Menurut keterangan sejumlah wali murid yang minta identitasnya dirahasiakan, bahwa menjelang akhir Pebruari ini para murid mendapatkan MBG berupa makanan kering dan buah-buahan. Makanan kering dan buah-buahan itu diterima murid di sekolah pada Selasa tanggal 24, Rabu tanggal 25, dan Kamis tanggal 26.
“Saat hari Senin tanggal 23 Pebruari, para murid tidak mendapatkan paket MBG. Namun paket MBG berupa makanan kering dan buah-buahan yang hari Senin, baru diterima murid di hari Rabu tanggal 25 Pebruari. Jadi di hari Rabu kemarin lusa itu, murid murid di sekolah ini menerima dua paket,” ujarnya, Jumat 27 Pebruari 2026.
Lalu, pada Kamis 26 Pebruari 2026 para murid kembali mendapatkan MBG. “Sedangkan di hari Jumat ini, para murid mendapat paket berupa makanan kering dan buah-buahan untuk jatah dua hari, yakni hari ini dan besok (Sabtu 28 Pebruari 2026),” kata wali murid menambahkan.
Disinggung porsi dan menu MBG yang diterima murid, bahwa pada Rabu 25 Pebruari 2026, para murid membawa pulang paket makanan kering yang terbungkus plastik untuk jatah dua hari. Menu dan jumlah porsinya cuma sebutir telur rebus, satu roti bunder, keju potongan tipis, satu kotak susu berikut kacang dan kue yang ukurannya kecil.
Sedangkan menu dan jumlah porsi MBG berupa makanan kering dan buah-buahan pada Kamis kemarin, diantaranya berupa satu roti tawar, sebutir telor, pisang satu buah, kacang dan beberapa butir buah kurma.
“Sementara pada hari Jumat ini, anak kami mendapatkan beberapa buah salak, sebutir telor rebus, kacang dan beberapa buah kurma, sebuah roti, keju, 1 susu kotak, dan satu kue kering,” kata wali murid menambahkan.
Uniknya, jumlah buah salak pada paket MBG yang diterima siswa kelas 1 – 3 dengan siswa kelas 4 – 6 ada perbedaan.
“infonya, murid kelas 4 sampai 6 mendapat dua buah salak. Sementara murid kelas 1 sampai 3 hanya menerima satu buah salak. Itu untuk 2 hari, yakni Jumat dan Sabtu,” kata salah satu walid murid.
Menurut mereka (wali murid), kuantitas dan kualitas menu yang diberikan kepada murid dalam beberapa hari terakhir ini sangat jauh dari harapan untuk mendukung pemenuhan gizi anak. Dan penyelenggaraan program tersebut diduga tidak sinkron antara anggaran yang dialokasikan dengan porsi menu yang diterima murid.
“Secara nalar, nilai dari porsi ini sangat tidak wajar dengan anggaran yang ada,” ungkap salah satu wali murid.
Seiring adanya perubahan menu MBG yang setiap dua hari sekali para murid menerima menu MBG berupa paket minimalis, muncul pandangan dari wali murid yang membandingkan menu MBG antara sebelum dan saat Ramadan. Sebelum Ramadan, setiap hari para murid mendapatkan menu nasi beserta lauk-pauk lengkap. “Menurut kami, perubahan ini sebagai penurunan kualitas yang signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, pihak SDN 22 Tumijajar membenarkan perihal MBG yang didistribusikan kepada murid selain di hari Selasa dan Kamis dalam sepekan ini ada yang dirapel.
“Iya benar, itu untuk jatah hari Kamis dan selama dua hari. Untuk hari Senin itu dirapel di hari Rabu, maka di hari Rabo itu ada 2 paket makanan gratis,” kata guru kepada realitapublik.id saat di lokasi.

Mendesak Evaluasi Penyelenggara SPPG
Kondisi ini memicu kekhawatiran para orang tua bahwa program strategis pemerintah pusat ini bisa terhambat atau menyimpang di tingkat pelaksana. Orangtua/wali murid mendesak Pemerintah Daerah Tubaba dan instansi terkait untuk melakukan audit serta evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) atau pihak penyelenggara yang ditunjuk.
“Kami harap pemerintah daerah segera turun tangan mengevaluasi pihak penyelenggara. Jangan sampai program mulia Bapak Presiden Prabowo Subianto ini justru dirusak oleh oknum yang mencari keuntungan dengan mengurangi hak gizi anak-anak kami,” ucap seorang wali murid.
Hingga berita ini dimuat, pihak pengelola dapur MBG (SPPG) ataupun penyelenggara di wilayah setempat belum memberikan keterangan resmi maupun tanggapan terkait keluhan wali murid SD sekolah tersebut.(*)
Penulis: Rodi Sandra
Editor : Red







