SITUBONDO, realitapublik.id – Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif dari Universitas Jember (Unej) dan Universitas Abdurachman Saleh (Unars) Situbondo periode 2026 resmi mengawali langkah pengabdian masyarakat di Desa Mojodungkol, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Langkah awal ini ditandai dengan digelarnya Forum Musyawarah Desa (Musdes) pada Senin (20/07/2026), yang mempertemukan para akademisi muda dengan jajaran pemangku kebijakan desa.
Bertempat di balai desa setempat, forum tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Desa Mojodungkol, Sekretaris Desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), jajaran perangkat desa. Pertemuan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa KKN untuk memaparkan hasil observasi lapangan mengenai pemetaan potensi desa, hambatan yang dihadapi warga, serta analisis keterlibatan aktor lokal.
Dalam pemaparannya, tim KKN Kolaboratif mengungkapkan adanya paradoks ekonomi yang mencolok di Desa Mojodungkol. Berdasarkan data sektor pertanian, desa ini dianugerahi lahan yang sangat subur. Komoditas utama yang dihasilkan melimpah ruah, mulai dari padi, jagung, hingga tembakau, serta didukung komoditas sampingan seperti singkong, bawang merah, dan cabai. Namun, kekayaan hasil bumi tersebut belum berdampak signifikan terhadap peningkatan nilai tambah ekonomi warga.
Mayoritas petani di Desa Mojodungkol terpaku pada pola lama, yakni langsung menjual hasil panen dalam bentuk mentah kepada tengkulak tanpa melalui proses pengolahan pascapanen (secondary processing).
Komoditas singkong mendapat sorotan tajam dalam diskusi. Secara teori, singkong memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernilai jual tinggi.
Ironisnya, mahasiswa menemukan fakta di lapangan bahwa komoditas singkong yang melimpah sejauh ini masih terbatas untuk konsumsi pribadi warga, sementara ketersediaan bahan baku untuk skala industri lokal justru sering tersendat. Hambatan ini kian diperparah oleh keterbatasan modal usaha serta langkanya ketersediaan pupuk subsidi di pasaran.
Inovasi Pupuk Bokashi Mandiri Jadi Solusi
Merespons persoalan pupuk yang mencekik produktivitas petani, tim KKN Kolaboratif menawarkan solusi konkret berupa pembuatan Pupuk Organik Bokashi secara mandiri. Pupuk ini memanfaatkan metode fermentasi bahan-bahan organik lokal yang mudah didapatkan di desa, seperti kotoran hewan, dedak, dan jerami, yang kemudian dicampur dengan cairan molase (tetes tebu) serta efektif mikroorganisme 4 (EM-4).
Ide ini mendapat respons positif dari semua pihak yang hadir dalam forum. Menurut Babinsa Desa Mojodungkol, Kopka Muhlis, riset pembuatan Pupuk Organik Bokashi tersebut dinilai taktis dan memanfaatkan limbah yang ada di Desa Mojodungkol.
Kendati demikian, ia memberikan catatan kritis yang menjadi lampu kuning bagi tim riset mahasiswa.
“Petani kita itu tipikalnya tidak mau coba-coba jika menyangkut hajat hidup lahan mereka. Komposisi formula pupuk Bokashi mandiri ini harus benar-benar dipastikan tepat dan presisi. Kesalahan sekecil apa pun dalam pencampuran bahan baku bisa berakibat fatal, artinya kerugian besar bagi petani yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari hasil panen,” tegas Kopka Muhlis di hadapan forum.
Pernyataan tegas Babinsa tersebut langsung disambut dengan komitmen terbuka oleh Kepala Desa Mojodungkol, Arif Subhan. Pihak pemerintah desa menyatakan siap memfasilitasi dan mengawal penuh inisiatif pupuk Bokashi ini agar dapat menjawab kelangkaan pupuk yang selama ini membelit masyarakat.
Hilirisasi Singkong dan Digitalisasi UMKM Bersama PKK
Tidak hanya di sektor hulu pertanian, mahasiswa KKN Kolaboratif juga menyasar sektor hilir ekonomi kreatif. Mengingat Desa Mojodungkol belum memiliki produk UMKM khas yang spesifik, perwakilan mahasiswa KKN, Fredi, memaparkan dua strategi utama pemanfaatan singkong yang akan digarap bersama Ibu-Ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
“Rencana kami adalah memanfaatkan komoditas singkong yang selama ini masih banyak digunakan untuk konsumsi pribadi, untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi berupa kripik singkong melalui pemberdayaan Ibu-Ibu PKK,” jelas Ridho Agie Galih Pratama, mahasiswa FISIP Unej asal Jombang ini.
Ridho menegaskan, bagi segelintir warga yang sudah merintis usaha kripik secara mandiri, tim KKN tidak akan mengubah produknya, melainkan melakukan penetrasi pasar modern.
“Bagi warga yang memang sudah memiliki usaha kripik, fokus kami adalah melakukan pendampingan teknologi. Kami akan membantu mereka memanfaatkan alat digital dan platform e-commerce seperti TikTok, Shopee, hingga Tokopedia sebagai media penjualan utama mereka agar pasarnya bisa menembus luar daerah,” pungkas Ridho

Momentum musyawarah kian kuat saat Kepala Dusun Krajan, Hasan alias Pak Ifroh, menyampaikan ekspektasi mendalam kepada para mahasiswa. Ia meminta agar program KKN ini tidak sekadar menjadi seremonial atau berhenti pada tataran pemikiran di atas kertas.
“Kami berharap adik-adik mahasiswa tidak berhenti sampai di forum ini saja. Kami meminta kelompok KKN nantinya kembali ke desa ini untuk melihat langsung, mengevaluasi, dan mendampingi hasil penerapan pupuk mandiri yang telah diujicobakan bersama warga,” tutur Hasan.

Sinergi yang terbangun antara mahasiswa, Kepala Desa, Babinsa, dan jajaran kepala dusun ini menjadi modal sosial yang kuat untuk mentransformasi Desa Mojodungkol menuju kemandirian ekonomi dan pertanian yang berkelanjutan.
Sebagai informasi keberhasilan perumusan program kerja multidimensi ini didukung oleh kolaborasi lintas disiplin ilmu dari mahasiswa Universitas Jember (Unej) dan Universitas Abdurachman Saleh (Unars).
Berikut job description masing-masing mahasiswa yang melaksanakan KKN di Desa Mojodungkol:
1. Ridho Agie Galih Pratama (Hubungan Internasional – FISIP) dari Unej, bertanggung jawab pada diplomasi kelembagaan dan pemetaan aktor kebijakan desa.
2. Muhammad Adhieska Sheva Pratama (Hubungan Internasional – FISIP) dari Unej, fokus pada analisis kemitraan strategis lintas sektor. kebijakan desa.
3. Bayu Bagus Satrio (Agribisnis – Faperta) dari Unej, menyusun analisis rantai pasok, tata niaga pertanian, dan kelayakan ekonomi UMKM.
4. Adrian Shevchenko Hidayat (Perkebunan – Faperta) dari Unej, mengidentifikasi manajemen budidaya tanaman dan optimalisasi komoditas unggulan desa.
5. Eriska Mardini (Proteksi Tanaman – Faperta) dari Unej, mengawal aspek keamanan tanaman, pengendalian hama, dan mitigasi risiko gagal panen.
6. Raveliyah Ramadani (Ekonomi Syariah – FEB) dari Unej, mendesain manajemen keuangan inklusif, pembiayaan mikro, dan literasi modal UMKM.
7. Chindy Khoria Putri (Fisika – FMIPA) dari Unej, melakukan riset parameter fisik tanah dan kontrol kualitas formulasasi bahan baku pupuk.
8. Eka Yulia Fardani (Teknik Sipil – Fakultas Teknik) dari Unej, merancang pemetaan tata ruang infrastruktur pertanian dan aksesibilitas desa.
9. Intan Amelia (Pendidikan Dokter Gigi – FKG) dari Unej, mengedukasi aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berbasis sanitasi bagi petani dan pengrajin UMKM.
10. Dian Ariska (Manajemen – FEB) dari Unars, mengonsep strategi pemasaran produk olahan pertanian dan kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
11. Sildalina Tri Octavia (Manajemen – FEB) dari Unars, berfokus pada penguatan tata kelola organisasi UMKM dan pengembangan kemasan produk.(*)
Penulis : Abdul Hakim






