SITUBONBO, realitapublik.id — Langkah kaki berderap di atas tanah perbukitan Kecamatan Jatibanteng. Di balik rimbunnya vegetasi pedalaman Situbondo, Desa Curahsuri menyimpan teka-teki masa lalu yang belum sepenuhnya terhimpun dalam aksara, bahkan seolah bisu di jagat digital.
Secara administratif, desa yang berdiri kokoh di atas bentang alam menantang ini terbagi menjadi empat dusun. Yakni Dusun Curahsuri Atas, Dusun Tanjung, Tegal Tengah, dan Lindut.
Dua Versi Toponimi: Antara Alam dan Manusia
Secara toponimi, nama Curahsuri merupakan cermin dari perpaduan alam dan sejarah manusianya. Kata “Curah” menjadi penanda geografis yang jelas—menggambarkan lanskap wilayah yang dipenuhi alur lembah, jurang alami, dan aliran sungai yang membelah perbukitan Jatibanteng.
Sementara untuk kata “Suri”, masyarakat setempat memiliki dua versi cerita tutur:
• Versi Pertama: Berasal dari kisah seorang musafir yang berteduh di tengah derasnya hujan pada waktu suri (sunyi/sore).
• Versi Kedua: Merujuk pada aliran sungai setempat yang bercabang menyerupai bentuk sisir rambut kuno (suri).
Namun, bagi masyarakat setempat, kata “Suri” lebih dari sekadar kondisi alam. Nama itu adalah penghormatan abadi untuk sang perintis jalan yang dalam tradisi kultural Jawa-Madura dikenal sebagai Buju’ Suri (Kiai Suri).
Hidup Lewat Tradisi Tutur Empat Tokoh
Meski mesin pencari digital tidak menyimpan dokumen silsilah kepala desa pertama atau nama lengkap Buju’ Suri, sejarah itu tidak pernah hilang. Kisah mereka dirawat dengan takzim melalui tutur lisan dari generasi ke generasi oleh para sesepuh desa.
Menurut cerita sesepuh, Desa Curahsuri pertama kali dibabat oleh empat tokoh spiritual (santri) besar:
1. Buju’ Biretakramah
2. Buju’ Misei
3. Buju’ Majapahit
4. Buju’ Minah
Keempat tokoh ini diyakini sebagai penembus keangkuhan hutan belantara Jatibanteng. Mereka mengubahnya menjadi pemukiman yang berdenyut, sekaligus menanamkan fondasi syiar Islam.
Keturunan dari para pembabat alas inilah yang kemudian dipercaya memimpin desa sebagai petinggi pertama melalui karisma moral mereka.
Keterkaitan dengan Migrasi Madura dan Raden Bagus Kasim
Jejak sejarah lokal menunjukkan bahwa babat alas di kawasan Jatibanteng berkelindan erat dengan arus migrasi masyarakat Madura dan pengaruh Raden Bagus Kasim (Ki Pateh Alos) dari Besuki pada abad ke-18.
Kini, rahasia nama lengkap sang perintis dan silsilah para pemegang maklumat pertama di Curahsuri tersimpan rapat di dua tempat: di dalam Buku Induk Desa kuno yang tersimpan di lemari arsip Kantor Balai Desa, serta di bawah keteduhan pohon-pohon besar yang menaungi makam keramat (buju’) setempat.
Juru kunci makam dan tetua dusun adalah para penjaga gerbang waktu desa ini. Bersimpuh mendengar dongeng sejarah dari mereka adalah satu-satunya cara untuk menghidupkan kembali kisah para Buju’ agar tak sekadar menjadi nama desa, melainkan tetap hidup sebagai pahlawan di hati warganya.(*)
Penulis : Hakim/Hakim






