SITUBONDO, realitapublik.id – Momentum Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2026 menjadi pemantik semangat bagi para pejuang sosial di tingkat akar rumput. Bagi para Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), esensi perjuangan para santri terdahulu kini bertransformasi menjadi jihad sosial melawan kemiskinan dan keterbelakangan di tengah masyarakat.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ahmad Abrori, Pendamping PKH Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo. Menurutnya, nilai-nilai kepesantrenan seperti keikhlasan, kemandirian, dan pengabdian tanpa pamrih menjadi fondasi utama bagi seorang pendamping sosial saat bergerak di lapangan.
“Hari Santri bagi kami bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah refleksi perjuangan. Jika dulu para santri angkat senjata melawan penjajah, maka hari ini kami bersama masyarakat berjihad melawan kemiskinan ekstrim, kebodohan, dan stunting,” ujar Ahmad Abrori saat ditemui di kantor PKH Kecamatan Suboh, Selasa (20/10/2026).
Abrori menambahkan, tema HSN tahun ini sangat beririsan dengan target Program Keluarga Harapan, khususnya dalam mencetak generasi masa depan yang tangguh demi menyongsong Indonesia Emas. Melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2), para pendamping terus menanamkan pentingnya pendidikan anak dan pemenuhan gizi keluarga.
“Kemandirian adalah tujuan utama pesantren, dan itu juga yang menjadi target kami. Kami ingin melihat anak-anak dari KPM ini sukses bersekolah, berakhlak baik, dan nantinya mampu membawa keluarga mereka graduasi mandiri dari bantuan sosial. Itulah bentuk nyata dari santri yang menguatkan negeri,” pungkas Abrori.
Melalui momentum Hari Santri ini, Pendamping PKH Kecamatan Suboh berkomitmen untuk terus mengawal penyaluran bantuan yang tepat sasaran serta memberikan edukasi berkelanjutan agar masyarakat rentan dapat berdaya secara ekonomi dan sosial.(*)
Penulis : Redaksi






