BOGOR realitapublik.id – Dalam upaya memperkuat kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Tamansari, Tamansari 02 menggelar kegiatan briefing dan edukasi rutin bagi puluhan relawan pada Jumat (23/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman dapur SPPG Tamansari 02, Kabupaten Bogor ini dipimpin langsung oleh Mitra SPPG, Sigit Purwanto dan H. Dadang Irawan.
Dalam arahannya, Sigit menekankan pentingnya kedisiplinan dan profesionalisme kerja bagi seluruh relawan demi menyajikan makanan bergizi yang aman dan berkualitas.
“Kami membangun hubungan antara relawan dan mitra seperti keluarga sendiri. Dengan begitu, mereka dapat bekerja dengan sepenuh hati, memiliki loyalitas tinggi, serta mampu menyajikan makanan bergizi sesuai dengan arahan Badan Gizi Nasional (BGN),” ujar Sigit saat dikonfirmasi media.
Sigit menambahkan, edukasi berkala ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesiapan relawan dalam merespons masukan dari penerima manfaat secara bijak.
“Kami selalu siap menerima masukan maupun kritik yang membangun dari penerima manfaat. Namun sejauh ini, berdasarkan ulasan di TikTok dan media sosial lainnya, mayoritas masyarakat memberikan tanggapan yang sangat positif terhadap dapur kami,” jelasnya.
Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam mendukung tumbuh kembang dan pencerdasan generasi penerus bangsa.
Terkait standar mutu makanan, Sigit memastikan seluruh bahan baku yang digunakan telah memenuhi kualifikasi ketat dari BGN, terutama untuk sumber protein hewani.
“Semua bahan baku, seperti daging ayam dan sapi, dikirim dalam kondisi segar (fresh) menggunakan kontainer berpendingin (AC). Kualitasnya dicek secara visual dari warna daging dan wajib memiliki tanggal kedaluwarsa yang jelas dari penyuplai,” terangnya.
Selain kualitas bahan baku, kedisiplinan serta kebersihan dapur menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Kami menerapkan standar higienitas yang ketat, mulai dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap bagi petugas, pengaturan suhu ruangan dapur, hingga kebersihan seluruh peralatan masak,” tegas Sigit.
Pihak manajemen juga tidak segan memberikan sanksi tegas bagi relawan yang melanggar etika maupun prosedur kerja.
“Awalnya kami berikan teguran atau peringatan. Namun jika pelanggaran terus berulang, kami akan berikan sanksi tegas hingga pemutusan hubungan kerja dan menggantinya dengan personel baru. Ini demi menjaga standar kualitas masakan kami,” tambahnya.
Kegiatan edukasi dan pemantauan kinerja relawan ini rutin dilaksanakan setiap tiga bulan sekali untuk menjaga mutu layanan dan profesionalisme tim di lapangan.
“Harapan kami, dapur ini dapat terus beroperasi secara berkelanjutan sehingga kami bisa terus berkontribusi dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa,” pungkas Sigit.
Penulis: Lucyana






