REALITAPUBLIK.ID – Datangnya musim hujan sering kali memicu kecemasan mendalam bagi sebagian warga, terutama para penyintas yang pernah menjadi korban banjir. Di tengah mendung yang mulai sering menggantung, rintik hujan di atas atap tidak lagi dipandang sebagai berkah, melainkan sebagai pemicu trauma psikologis yang nyata.
Banyak penyintas mengaku kerap mengalami jantung berdebar, kepanikan mendadak, hingga sulit tidur akibat rasa takut akan kehilangan materi dan ancaman keselamatan yang pernah mereka lalui.
Trauma pascabencana ini merupakan respons emosional yang sepenuhnya valid. Untuk menghadapi dampak psikologis tersebut sekaligus menekan rasa tidak berdaya, para ahli menyarankan kombinasi antara pengelolaan stres mandiri dan kesiapsiagaan fisik yang terukur.
Menghadapi trauma bukan berarti menyangkal rasa takut, melainkan menerimanya dan mengalihkan energi tersebut ke tindakan yang rasional.
Para psikolog menyarankan dua langkah utama untuk menjaga kesehatan mental menjelang puncak musim hujan:
• Metode Grounding 5-4-3-2-1: Sebuah latihan kesadaran penuh (mindfulness) yang memanfaatkan kelima panca indra untuk meredakan panik seketika. Metode ini efektif mengalihkan fokus dari pikiran yang cemas kembali ke momen saat ini (present moment).
• Batasi Doomscrolling: Warga diimbau untuk membatasi konsumsi berita buruk atau video bencana di media sosial secara berlebihan yang dapat memperparah ketakutan.
Menghadapi trauma ini tidak berarti harus menyangkal rasa takut, melainkan menerimanya dan mengalihkan energi tersebut ke dalam tindakan yang rasional.
Di sisi lain, mengantisipasi datangnya puncak musim hujan, langkah kesiapsiagaan fisik sebagai kunci utama untuk meredam rasa tidak berdaya.
Warga diimbau untuk menerapkan prinsip “Sedia Sebelum Basah” guna mengamankan aset-aset berharga sebelum air memasuki pemukiman.
Langkah taktis yang dapat dilakukan meliputi penyelamatan dokumen penting (seperti sertifikat dan ijazah) dengan membungkusnya berlapis menggunakan plastik ziplock di dalam Tas Siaga Bencana (TSB), serta melakukan digitalisasi atau scan dokumen ke cloud storage.
Untuk perangkat elektronik, warga diminta segera memutuskan aliran listrik utama (MCB) jika air mulai menggenang, memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi, serta mencabut kabel aki kendaraan yang terpaksa ditinggal guna menghindari korsleting total.
Melalui kombinasi pemulihan mental dan aksi preventif yang terukur dalam menyelamatkan barang-barang berharga, masyarakat diharapkan dapat melewati musim hujan kali ini dengan rasa aman yang lebih baik dan kesiapan yang lebih matang.(*)






