PASURUAN realitapublik.id – Ketua Barikade Gus Dur Kabupaten Pasuruan, Moslem, menyampaikan kritik keras terhadap rencana “Gebyar Sholawat” yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Moslem menilai, kegiatan yang dikaitkan dengan peringatan Hari Santri Nasional tersebut berpotensi menghamburkan anggaran publik untuk kegiatan seremonial, alih-alih dialokasikan untuk program yang lebih berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, seperti pembangunan, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.
Pernyataan ini disampaikan Barikade Gus Dur pada Selasa (21/10), menekankan bahwa organisasi mereka hadir sebagai pengawas kebijakan pemerintah demi kemanusiaan dan perdamaian, sejalan dengan perjuangan Gus Dur.
Hari Santri: Spirit Perjuangan, Bukan Panggung Hiburan
Moslem menegaskan bahwa Hari Santri Nasional, yang lahir dari semangat Resolusi Jihad para ulama, seharusnya menjadi momentum perenungan dan penguatan nilai, bukan sekadar perayaan.
“Hari Santri harus diarahkan untuk memperdalam ruh perjuangan santri, bukan untuk menonjolkan individu atau tokoh, apalagi menjadikannya ajang hiburan massal yang kehilangan makna spiritualnya,” ujar Moslem.
Kritik terhadap Format Konser Shalawat
Barikade Gus Dur secara khusus menyoroti rencana kegiatan yang mengundang tokoh populer keagamaan dengan format konser shalawat—seperti yang sering terjadi dengan mengundang Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf—karena dianggap menggeser nilai Hari Santri.
Menurut Barikade Gus Dur, format kegiatan tersebut memiliki dampak negatif, yaitu:
* Pemborosan Anggaran: Menghabiskan anggaran daerah yang seharusnya untuk kegiatan pembinaan santri dan program prorakyat lainnya.
* Pengalihan Esensi: Mengalihkan perhatian dari esensi pendidikan dan kebangsaan santri.
* Fanatisme Figur: Berpotensi menimbulkan fanatisme terhadap figur, bukan terhadap nilai perjuangan.
“Hari Santri harus kita jaga sebagai panggung ilmu, bukan panggung popularitas,” tegas Moslem.
Mengembalikan Kegiatan Hari Santri ke Nilai Asal
Barikade Gus Dur mendesak Pemkab Pasuruan agar kembali menegakkan ruh Hari Santri melalui kegiatan yang bersifat mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan.
Mereka mengusulkan kegiatan yang lebih sesuai dengan semangat Resolusi Jihad, seperti:
– Doa dan istighotsah nasional.
– Lomba kajian kitab kuning dan hafalan sejarah ulama.
– Dialog kebangsaan antara santri dan pemerintah.
– Gerakan sosial santri (bakti masyarakat, lingkungan, dan pendidikan).
Pesan Akhir: Menjaga Marwah Santri
Dalam pesan penutupnya, Barikade Gus Dur menegaskan bahwa mereka tidak menolak tokoh, tetapi menolak bentuk kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai perjuangan santri.
“Hari Santri adalah milik semua santri, bukan milik kelompok atau figur tertentu. Mari kita jaga kesucian Hari Santri dari arus hiburan yang menenggelamkan nilai perjuangan dan penyalahgunaan dana publik,” pungkas Moslem, menyerukan agar Hari Santri kembali kepada cita-cita awalnya: meneguhkan iman, ilmu, dan cinta tanah air.
Penulis : Tim
Editor : Red







