SEMARANG, realitapublik.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan mulai memberikan dampak nyata bagi ekonomi global. Blokade Selat Hormuz oleh pemerintah Iran memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak mentah dunia, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi kapal tanker internasional.
Indonesia, bersama negara-negara di Asia Tenggara lainnya, kini berada dalam posisi waspada terhadap dampak domino dari konflik tersebut, terutama terkait penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.
Harga minyak mentah dunia dilaporkan telah melampaui angka 100 dolar AS per barel. Lonjakan ini tidak terlepas dari kebijakan Iran yang hanya mengizinkan negara-negara sekutunya melewati Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan gangguan pasokan global yang signifikan.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa dampak dari konflik kawasan tersebut diprediksi baru akan dirasakan sepenuhnya oleh Indonesia pada April 2026.
“Memang dampaknya itu akan bisa kita rasakan mulai April,” ujar Laode saat meninjau Kilang Pertamina RU VI Balongan, Kamis (12/3/2026) lalu.
Masyarakat kini tengah bersiap menyusul adanya kemungkinan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM pada 1 April 2026 pukul 00.00 WIB. Mengacu pada pola sebelumnya, penyesuaian harga memang rutin dilakukan setiap tanggal 1 awal bulan berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Sebagai catatan, pada periode Februari-Maret 2026, sejumlah produk BBM non-subsidi telah mengalami kenaikan:
Pertamax: Rp11.800 ➔ Rp12.300 per liter.
Pertamax Turbo: Rp12.700 ➔ Rp13.100 per liter.
Dexlite: Rp13.250 ➔ Rp14.200 per liter.
Pertamina Dex: Rp13.500 ➔ Rp14.500 per liter.
Hingga berita ini diturunkan, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite masih tertahan di harga Rp10.000 dan Solar di Rp6.800 per liter.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau laman resmi Pertamina guna mendapatkan informasi terkini mengenai harga di wilayah masing-masing. Belum ada kepastian apakah penyesuaian kali ini akan berujung pada kenaikan atau kebijakan lain untuk menstabilkan harga.
Namun, harapan besar muncul agar pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi. Bagi rakyat kecil, BBM subsidi adalah “detak jantung” ekonomi kerakyatan. Kenaikan pada sektor ini dikhawatirkan akan memicu inflasi dan mengganggu daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Stabilitas harga, baik subsidi maupun non-subsidi yang tetap terjangkau, menjadi kunci agar ekonomi nasional tetap tangguh menghadapi badai geopolitik di Timur Tengah.
Penulis : Fery Eka spt
Editor : Chu







