Pupuk Subsidi “Disekap” Aturan, Petani Bungatan Menjerit: “Kaule Tak Bisa Ngobengi Puthok”

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

i

Oplus_16908288

SITUBONDO, realitapublik.id — Jeritan petani di Kecamatan Bungatan dan sekitarnya kian memilukan. Di tengah musim tanam kedua yang krusial, akses terhadap pupuk bersubsidi justru dirasakan semakin sulit. Ironisnya, hambatan ini diduga muncul akibat kebijakan baru yang dinilai tidak sinkron dengan realitas geografis dan kondisi sosial para petani kecil.

 

Keluhan masif datang dari Desa Selowogo, Mlandingan, Bungatan, Pasir Putih, Sumber Tengah, hingga Patemon. Selain kelangkaan, petani mengendus adanya praktik “sunat” kuota oleh oknum kios nakal serta minimnya transparansi distribusi e-RDKK.

 

“Engak napa gih pak, mak puthok mangken sarah pole, kaule tak bisa ngobengi puthok,” (Bagaimana ini pak, kenapa pupuk sekarang sangat sulit, saya tidak bisa menebus pupuk), keluh seorang petani dengan logat Madura yang kental, menggambarkan keputusasaan mereka.

Baca Juga :  Bupati PALI Dipanggil KPK, Pemkab: Hanya Saksi, Masyarakat Jangan Berspekulasi

 

Polemik ini memuncak pasca terbitnya edaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertagan) Situbondo per 23 April 2026. Aturan tersebut melarang penebusan secara berkelompok dan mewajibkan petani datang langsung ke kios.

 

Meski bertujuan mencegah penyimpangan, kebijakan ini justru menjadi bumerang bagi petani lansia atau mereka yang tinggal di pelosok dengan medan sulit. Jarak kios yang jauh dan prosedur yang kaku membuat petani harus membuang waktu, tenaga, dan biaya transportasi yang tidak sedikit.

 

Perwakilan kelompok tani (Poktan) pun merasa dikebiri perannya. “e-RDKK itu lahir dari data kelompok tani. Tanpa kami, data itu tidak ada. Tapi sekarang kami seolah hanya dimanfaatkan dan tidak lagi leluasa membantu distribusi kepada anggota,” ungkap salah satu pengurus Poktan dengan nada kecewa.

Baca Juga :  DPD II Golkar Tubaba Serahkan Surat Tugas LO dan Tim Teknis ke KPU dan Bawaslu

 

Menanggapi kegaduhan tersebut, Koordinator PPL wilayah Bungatan memberikan klarifikasi melalui pesan singkat, Kamis (30/04/2026) sore. Ia membantah adanya upaya mempersulit petani.

 

“Petani yang ingin mengambil langsung ke kios silakan, melalui kelompok tani juga silakan. Kami tidak menekan atau menghalangi. Kebijakan ini masih tahap awal penerapan sesuai edaran dinas untuk melihat sejauh mana sistem ini bisa diterima,” jelasnya.

 

Pihak PPL justru menyarankan agar kelompok tani tetap dilibatkan sebagai perwakilan bagi petani yang memiliki keterbatasan fisik maupun akses.

Baca Juga :  Operasi Tumpas Narkoba 2026, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Amankan 27 Tersangka dan Sita 1 Kilogram Sabu

 

Kondisi ini jika dibiarkan akan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan daerah. Kelangkaan pupuk di masa tanam dapat memicu gagal panen massal.

Para petani mendesak Dispertagan Situbondo untuk:

1. Mengevaluasi Total implementasi edaran 23 April agar lebih fleksibel bagi wilayah terpencil.

2. Menindak Tegas oknum kios yang diduga menimbun atau “menyunat” jatah pupuk subsidi.

3. Transparansi e-RDKK di setiap desa agar petani tahu pasti jatah yang mereka miliki.

 

Jika pemerintah daerah tidak segera turun tangan, bukan hanya padi yang gagal tumbuh, tapi keberlangsungan hidup ribuan petani kecil di Bungatan akan semakin terhimpit.

Penulis : Ivan R

Editor : Red

Berita Terkait

Kawal Aspirasi Warga Pekalongan Utara, Pejuang 24 Desak Perbaikan Jalan hingga Pembangunan Jembatan
Massa Aksi Demo Bertahan hingga Sore di Gedung DPR, Dinamika Lapangan Semakin Memanas
Aparatur Tiyuh Se-Tubaba Demo Tuntut Siltap 6 Bulan Tertunda, Ancam Mogok Kerja
Pimpinan DPR Berjanji Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Sebelum 15 Desember 2026
Kreator dan Jurnalis Keluhkan Jaringan Internet Hilang Saat Aksi di Depan Gedung DPR RI
Peringatan Maulid Nabi dan Wilujengan LP2BN Pasuruan di Makam Adipati Wiranegara
Memeriahkan HUT ke-4 Tiyuh Marga Asri, Pemerintah Tiyuh Gelar Sholawatan, Doa Bersama, dan Seni Kuda Lumping
Peduli Ketahanan Pangan, Babinsa Lekok Dampingi Penyaluran Beras di Desa Wates
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 00:27 WIB

Kawal Aspirasi Warga Pekalongan Utara, Pejuang 24 Desak Perbaikan Jalan hingga Pembangunan Jembatan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:04 WIB

Massa Aksi Demo Bertahan hingga Sore di Gedung DPR, Dinamika Lapangan Semakin Memanas

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Aparatur Tiyuh Se-Tubaba Demo Tuntut Siltap 6 Bulan Tertunda, Ancam Mogok Kerja

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Pimpinan DPR Berjanji Mundur Jika RUU Perampasan Aset Tak Sah Sebelum 15 Desember 2026

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Kreator dan Jurnalis Keluhkan Jaringan Internet Hilang Saat Aksi di Depan Gedung DPR RI

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:04 WIB

Peringatan Maulid Nabi dan Wilujengan LP2BN Pasuruan di Makam Adipati Wiranegara

Rabu, 26 Agustus 2026 - 15:19 WIB

Memeriahkan HUT ke-4 Tiyuh Marga Asri, Pemerintah Tiyuh Gelar Sholawatan, Doa Bersama, dan Seni Kuda Lumping

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:10 WIB

Peduli Ketahanan Pangan, Babinsa Lekok Dampingi Penyaluran Beras di Desa Wates

Berita Terbaru